ASI juga Urusan Suami

Posted by on Aug 8, 2017 in komunitas | No Comments
ASI juga Urusan Suami

Foto kegiatan komunitas AyahASI Medan. (Instagram @ayahasi_medaan)

Medan, (halosumut) APA itu AyahASI? Penyebutan Ayah ASI memang spontan memunculkan pertanyaan itu. Namun terlepas itu, justru pertanyaan ini merupakan peluang pintu untuk mendiskusikan apa itu AyahASI. Sederhananya itu bisa dianggap sebagai strategi memasarkan Program Menyusui (ASI) itu sendiri. Wakil Ketua AIMI Sumut, Hery Firdaus menegaskan penyebutan AyahASI ini bukanlah berati Ayah yang menyusui atau memberikan ASI kepada anaknya.

“AyahASI berarti bahwa Ayah memiliki peranan penting dalam Pemberian ASI yang dilakukan sang istri kepada anaknya, karena tanpa dukungan seorang suami, kecil kemungkinan pemberian ASI Eksklusif bisa berhasil,” katanya kepada halosumut.

Sebaliknya riset menunjukkan, ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif 98.2 persen karena adanya dukungan seorang suami terhadpa sang istri selama periode menyusui tersebut. Jadi kata Hery, Ayah ASI adalah Ayah yang mendukung penuh istrinya dalam memberikan ASI. Apalagi bukan menjadi rahasia, cukup banyak tantangan dalam pemberian ASI, dan suamilah pendukung utamanya. Boleh dikatakan AyahASI menjadi supporter utama.

Menurutnya secara psikologi, seorang ibu disebut bahagia, karena merasa mendapatkan dukungan penuh dari suami dan orang di sekelilingnya, memiliki informasi yang cukup atas apa yamg dilakukan serta perhatian sang suami menjadi faktor penentu bagi kelancaran proses menyusui. Dalam praktiknya bentuk dukungan yang bisa dilakukan seorang ayah bagi sang istri bisa diawali dengan mengajak istri memgikuti Kelas EdukASI atau sama-sama belajar tentang informasi bagaimana menyukseskan pemberian ASI. Boleh juga mulai mencari dan menemukan komunitas dukungan ibu menyusui, mencari tenaga kesshatan dan rumah sakit yang pro menyusui. Termasuk memastikan di rumah sakit bahwa bayi diberikan IMD, tidak diberikan susu formula.

“Setelah lahiran, hadirlah di samping istri saat pemberian ASI bagi buah hati, membantu bayi menemukan posisi dan perlekatan yang tepat agar terhindar dari lecet, luka saat menyusui. Jangan lupa meyakinkan sang istri untuk memberikan ASI sesering mungkin,” bebernya.

Bukan sekadar itu, AyahASI juga turut membantu menyendawakan bayi setelah menyusui, mengganti popok sang bayi, memandikan bayi, dan menggendong sang bayi sehingga sang istri benar-benar merasa mendapat dukungan sang suami. Syukurnya secara pribadi Hery belajar banyak dari pengalaman hamil dan pengasuhan anak-anaknya selama ini. Dikisahkannya juga saat pengalaman anak pertama, dia masih ingat selama tujuh (7) hari pertama, dia terlibat memandikan bayi pertamanya selama sekitar seminggu pertama sampai tali pusarnya pupus. Hery juga turut menggantikan popok, membantu menyendawakan bayi setelah menyusu, juga  menemani istri menyusui tengah malam.

“Saya turut bangun, memastikan posisi anak, juga memastikan anak agar disusui sesering mungkin,” bilangnya.

Saat pengalaman anak kedua, dia pun masih ingat, dia membantu agar bayi bisa mendapatkan perlekatan yang tepat setiap menyusui sehingga selama anak kedua istri tidak mengalami puting lecet atau luka/iritasi sampai saat ini. Tak ketinggalan dia juga menemani anak saat di imunisasi. Tentu di samping bermain bersama anak sehingga istri memiliki waktu untuk istirahat. Begitupun dia ceritakan juga pengalaman saat anak pertamanya, istri tergoda untuk memberikan susu formula karena teman-teman sang isteri di tempat kerjanya mendorong agar memberi susu formula sbagai tambahan ASI. Malah isterinya sempat membeli susu formula tersebut. Namun untungnya sebelum digunakan istri menyampaikan hal tersebut.

“Akhirnya saya harus meyakinkan istri bahwa anak 6 bulan itu cukup dengan ASI saja, dan ASI sudah mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh optimal. Akhirnya susu formula tadi kita buang,” akunya.

Tantangan Mendukung Gerakan Ayah ASI ?

Sebetulnya “gerakan” AyahASI ini mengambil posisi sebagai pendukung utama bagi istri, selebihnya ada keinginan mendukung kesadaran para Ayah muda dan baru agar peduli dan juga mendukung pemberian ASI kepada isteri-isteri mereka. Diungkapkannya juga saat ini gerakan AyahASI sejauh ini bermain di tingkat kampanye untuk meningkat awareness masyarakat khususnya para ayah. Tantangannya menurut Hery, karena para ayah juga bekerja sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pertemuan dengan para AyahASI lainnya, sehingga gerakan ini dilakukan melalui sosial media. Kadang juga mereka berkolaborasi dengan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumut, yang memiliki program-program seperti Kelas Edukasi untuk para ibu ayah, atau sosialisasi ke masyarakat atau konseling. Jadi AyahASI menghubungkan para ayah dan isterinya ke AIMI  untuk turut menyebarluaskan kegiatan AIMI dan pesan-pesan kesehatan di dunia maya.

Sejatinya diungkapkan Hery, bahwa suksesnya pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh diri si ibu dan lingkungannya. Dari diri si ibu sebaiknya memiliki persiapan untuk belajar tentang hal-hal mendasar perihal menyusui, termasuk tantangannya. Yakin bahwa dirinya bisa memberikan yang terbaik bagi buah hatinya serta ikhlas menjalaninya. Sementara dari lingkungan harus ada dukungan seperti keluarga dan masyarakat. Khususnya suami.

“Kita mau bilang, kita para AyahASI bukan para pakar lo, kami hanya ayah biasa yang berkomitmen untuk mendukung pemberian ASI sebagai sumber nuttrisi utama bagi buah hati kami, dengan belajar dan belajar. Kami yakin ASI bukan hanya urusan para ibu, nenek tetapi juga urusan suami, masyarakat dan kita semua, karena kita berbicara generasi bangsa,” pungkasnya. (Elina Lubis)

7,899 total views, 2 views today

Tinggalkan Pesan