Banda the Dark Forgotten Trail: I Love Janda

Posted by on Aug 9, 2017 in blak-blakan, kombur | No Comments
Banda the Dark Forgotten Trail: I Love Janda

Poster Film “Banda the Dark Forgotten Trail” Karya Jay Subiakto.

Hari ini ada gambar Doraemon di tembok kusam bangunan. Pun, banyak juga coretan di dinding dermaga seperti ‘i love janda’ dan sebagainya. Kenyataan hari ini mau tak mau mengaburkan masa lalu jaya Kepulauan Banda.

Paragraf di atas adalah penilaian subjektif saya usai menonton film dokumenter  ‘Banda the Dark Forgotten Trail’. Unsur subjektif  ini sengaja tidak saya hindari karena untuk berbicara secara objektif mungkin kemampuan masih terlalu dangkal. Beruntung saya percaya bahwa – seperti kata orang bijak – bicara tentang film dokumenter itu selain mengandung fakta juga mengandung subjektifitas pembuatnya. Subyektifitas diartikan sebagai sikap atau opini terhadap peristiwa. Kekhasan film dokumenter adalah posisi yang mengombinasikan dua hal yaitu keseluruhan yang berdasarkan kebenaran dan seni. Maka, film dokumenter bisa disebut ‘fakta yang disusun secara artistik’.

Begitulah, ketika Medan diselimuti mendung pada Selasa (8/8/17), saya bersemangat memasuki sebuah bioskop di Jalan Mongonsidi. Berbekal tiket seharga tiga puluh lima ribu rupiah, saya langsung duduki ruangan yang hanya berisi segelintir orang itu. Terus terang, menyaksikan film dokumenter di bioskop menjadi sebuah kepenasaran yang dalam. Dan kepenasaran itu mulai terjawab setelah film diputar pengunjung yang berada di dalam ruangan tersebut tak lebih dari dua puluhan orang.

Tapi sudahlah, saya memang ingin menonton film karya Jay Subiakto itu dan bukan menonton penontonnya. Sialnya, film ini cukup mengundang ketertarikan saya. Saya jatuh cinta langsung dengan tata musik dan visualnya. Hentakan pada musik yang ditata oleh Lie Indra Perkasa melenakan saya. Beruntung suara Reza Rahardian yang menjadi narator cukup mumpuni hingga mampu mengimbangi fokus saya pada musik dan gambar-gambar tadi. Ya, harus saya akui, inilah kali pertama saya suka padanya. Suaranya tidak berlebihan. Roh kata muncul dan menimbulkan suasana yang pas. Bahkan, pada puisi yang  muncul dalam film itu, suara Reza masih saya suka.

Satu lagi, dari beberapa film dokumenter yang saya tonton, dalam film ini sepertinya Sheila Timothy sebagai produser memberikan saya pengalaman baru. Ada denyut dalam film ini. Tidak monoton. Tidak beralur datar. Ada sedih. Ada ketegangan. Ada pula komedi; saya senyum sendiri ketika wajah Usman Thalib, sejarahwan yang menjadi narasumber , mendadak diblur. Pun, banyak simbol yang bermakna menghiasi visual film yang memanjakan mata yang digarap oleh sinematografer Ipung Rachmat Syaiful. Penata kamera lain seperti Davy Linggar, Oscar Motuloh, dan Dodon Ramadhan juga berhasil membuat imajinasi penonton seolah hidup pada masa-masa sejarah itu. Animasi yang dimunculkan pun tak berlebihan. Berbagai hal itu diramu rapi tanpa kesan paksaan.

Begitupun, berbicara film dokumenter, tentu tak bisa melepaskan diri dari isi atau kontennya kan? Hasilnya, cerita yang ditulis Irfan Ramli dalam film ini menarik perhatian saya. Tuturan sejarah panjang yang mungkin sempat terlupa mampu disampaikan dengan apik. Ragam kepentingan, kejadian, dan huru-hara di Banda dalam berbagai waktu tersaji menjadi makanan yang menggoda rasa. Sebut saja bagaimana persaingan Portugis dan Spanyol dalam usaha menguasai rempah dan wilayah. Lihatlah bagaimana Belanda dan Inggris dalam memperebutkan Pulau Rhun yang kaya pala berkualitas hingga terjadi pertukaran dengan Pulau Manhattan di Amerika sana. Ya, dengan pengetahuan sejarah saya yang terbatas, film ini menjadi perangsang. Itulah mengapa saya merasa film ini sepertinya tidak mau memasukan secara utuh fakta sejarah yang didapat. Dia memunculkan penggalan-penggalan dan seperti meminta penonton menambahi pengetahuannya masing-masing. Dan saya percaya, dengan sejarah luar biasa di Kepulauan Banda dari zaman pra Belanda hingga NKRI, tidak cukup satu film dokumenter saja.

Yang jelas, seperti kata orang bijak, berbicara soal sejarah Indonesia seperti anak tiri dalam kehidupan berdunia.  Sejarah jaya masa lalu seperti tertutup masa kelam. Film  ‘Banda the Dark Forgotten Trail’ ini cukup berhasil menampilkan kesan itu. Khusus Kepulauan Banda, dia bahkan terkesan lebih muram. Dia yang menjadi kembang desa, kemudian dinikahi, lalu ditinggal pergi.

Banda menjadi janda yang selalu terkenang dengan masa indah sebagai kembang desa, sementara nyatanya dia dicerai atau ditinggal pergi dan harus hidup dalam kegamangan: bagaimana besok? Ya, seperti sebuah frame dalam film itu, pada sebuah dermaga terdapat tulisan di dindingnya yang cukup menggoda mata saya: i love janda. (kenon bb)

8,174 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan