Banyak Semut di Pilgub Sumut

Posted by on Aug 9, 2017 in kombur | No Comments
Banyak Semut di Pilgub Sumut

Banyak Semut di Pilgub Sumut

Oleh Kenon BB

Makin hari makin dekat aja pemilihan gubernur – cocoknya kita singkat pilgub – di Sumatera Utara (enaknya disingkat Sumut) kan? Namanya dekat, maka merapatlah. Merapat serapat-rapatnya. Habis itu, mulailah  rapat. Kalo udah yang merapat terlibat dalam rapat, ujung-ujungnya ya tahu sendirilah.

Tapi, kekgitulah kalo lagi ada pesta. Sanak keluarga, jiran, sampai kenalan semua merapat. Sibuk-sibuk di rumah yang punya hajat. Ada yang urus teratak. Ada yang pegang keamanan. Ada yang bantu-bantu masak. Ada yang sumbang-sumbang uang (biasanya ini urusan keluarga). Banyaklah. Pokoknya, panitia pun dibentuk. Dibagilah segala tugas untuk yang bertugas. Kekgitulah biasanya gaya kepanitian pesta.

Tapi, kawanku sebelah rumah agak aneh.  Pas dia buat pesta, dia tambah satu lagi unsur kepanitiaan. Namanya, seksi urusan semut! Apa pula itu kan? Kami selingkungan bingung sampek dia jelaskan. Dia bilang, namanya pesta pasti banyak makanan yang mengundang semut. Gula misalnya. Daging misalnya. Jadi, menurut dia, perlu orang khusus yang mengawasi itu. Rupanya yang dia maksud bukan sekadar semut betulan, ini soal orang yang suka bawa pergi makanan. Semut-semut itu katanya sering menyelundupkan makanan ke luar rumah si pemilik hajat. Gawat kan. Bayangkan aja pas pesta, makanannya sudah habis, tapi tamu masih banyak kali. Bisa hancur nama si pemilik pesta. Dalam hal ini, ya, kawan tadi itu. Artinya, karena tak mau malu, kawan ini membuat komisi khusus pengawas semut.

Jujur aja, ketawa kami pas dia terangkan itu. Tapi, salut juga. Kenapa pula dia bisa berpikir kayak gitu ya? Apa dia terlalu pelit? Entahlah.

Yang jelas, teringat pesta, sejurus ingatanku dengan Pilgub Sumut. Pesta juga dia kan? Namanya pemilihan gubernur itu kan berarti pesta rakyat. Namanya pesta, segala tugas sudah diatur. Itulah sebab ada KPU, Bawaslu, dan sebagainya. Tapi kurasa, ngapai juga kita bicarakan KPU dan Bawaslu itu kan? Gak seksi terasa.

Yang seksi itu calon-calon di Pilgub Sumut? Ya, meski pilgub itu pesta rakyat, nyatanya yang pesta para calon itu kan? Masing-masing calon pasti punya panitianya sendiri. Segala urusan – mau urusan nampang sampek capek-capek – biasanya sudah disiapkan. Intinya, si calon gubernur disulap kek raja. Kenapa gitu? Ya, karena dia yang dijual. Namanya dijual harus dikemas dengan baik kan? Apalagi, biasanya, si calon itu yang sediakan uangnya. Kalo dia tak punya uang, ya gak mungkin. “Mau maju gak punya uang, gila apa!” kekgitulah kira-kira orang bilang.

Masalah si calon dapat uang dari mana – kayak jual tanah warisan, minta sumbangan pengusaha, sampek utang – itu urusan belakang. Yang penting, uang tersedia pas program panitia mulai jalan. Nasib kalau menang, kalo kalah kan bisa gawat. Makanya, si calon cocoknya punya perhitungan yang pas. Pun kalo perlu, si calon kek kawan kita tadi. Bikin tim khusus pengawas semut. Ayolah, bukan rahasia lagi kan kalo si calon banyak dikerumuni semut? Dia datang bawa KTP atau surat dukungan. Dia datang bawa kata-kata menggoda. Dia datang dengan klaim punya massa. Pokoknya, dia datang dengan ragam caralah.

Itu sebabnya, semut di pilkada ini, bahkan, lebih congok. Kalo di pesta paling cuma bawa serantang dua rantang makanan kan? Nah, semut di calon-calon ini bisa dapat mobil sampek biaya hidup untuk lima tahun lagi. Yang penting kenyang, menang urusan belakang. Gak percaya? Lihat sajalah sendiri.

Tapi udahlah, kek kata orang tua, kalo banyak semut di rumah, berarti banyak rezeki. Iyalah, sepakatlah kita ya. Kekmana gak sepakat, semut-semut itu kan tahu mana yang manis atau tidak ya kan? Masalahnya kalo makanan dah banyak kali disemuti, apalagi yang mau dimakan? Masak tinggal ampas. Gak luculah.

7,174 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan