Catatan Merekam Saman : Balada Teh Aren dan Ikan Berbalut Daun

Posted by on Oct 3, 2017 in blak-blakan, melancong | No Comments
Catatan Merekam Saman : Balada Teh Aren dan Ikan Berbalut Daun

Catatan Merekam Saman : Balada Teh Aren dan Ikan Berbalut Daun

Oleh Ahmad ‘Jon’ Ridwan Nasution

Jalanan di Kutacane, Aceh Tenggara, Aceh. (Halo Sumut / Jon)

Setelah enam jam melalui ‘jalan lintas Kutacane’ itu, tepat sebelum subuh, kami melintasi perbatasan Sumatera Utara dan Aceh. Terus terang kami sangat bahagia meski dari Kutacane kami masih memerlukan waktu kurang lebih 3 jam lagi menuju lokasi Tari Saman: setidaknya begitu estimasi waktu versi aplikasi google maps.

“Bang Fer, Subuh lah dulu kita ya di sini, sekalian istirahat.”

“Oke Jon,” balas Bang Ferdy.

Bang Ferdy pun memarkirkan mobil di masjid yang berada di sana.

“Pak, Pak bangun! Udah sampek kita,” saya bangunkan kedua teman Bang Ferdy yang ternyata sudah kembali lelap itu.

“Oh, udah sampek di lokasi?”

“Belum lah Pak, masih masuk Aceh ini ha ha ha,” jawab saya sambil tertawa.

“Lho, panjang kali ya Sumut, baru ini masuk Aceh,” balas mereka.

Kami pun turun untuk membasuh muka dan buang air kecil. Sembari menunggu Subuh kami pun tidur-tiduran di masjid yang belum ada orangnya itu. Tak lama datang seorang bapak menaiki sepeda motor dan bapak ini pun membuka pintu masjid serta menyetel tape untuk menghidupkan kaset ngaji.

Udara terasa menggigit. Saya lumayan menggigil. Bodoh memang, saat di mobil tadi saya memakai jaket, eh, begitu keluar mobil malah saya lepaskan. Tapi sudahlah, selesai dua rakaat salat Subuh, kami pun kembali ke mobil. “Bang Fer, akulah yang bawak ya, abang istirahat dulu.”

“Ya udah, Jon, bawaklah,” balas Bang Ferdy.

Berjarak 500 meter dari masjidtempat kami salat tadi, terlihat di sebelah kiri masjid besar. “Ealah Jon, tadi abang maksud nya mau salat di sini. Tapi, lupa-lupa ingat abang lokasinya,” kata Bang Ferdy sembari menunjukkan lokasi Masjid Agung Kutacane.

“Ya udah yok kita ngeteh dulu ngangeti badan,” katanya lagi.

Ya, tak jauh dari Masjid Agung Kutacane ada warung kopi (warkop) tempat pemberhentian mobil atau bus yang menuju Kota Medan. Begitu sampai di warkop itu, kami pun langsung ambil posisi.

“Bang aku teh susu.”

“Aku teh manis.”

“Aku teh pahit.”

Saya pun kembali ke mobil. Bang Ferdy meminta saya mengambil roti. “Lumayan untuk ganjal-ganjal kan?” katanya.

Begitu saya kembali membawa roti, tak lama kemudian roti itupun sudah pindah ke pertu kami masing-masing. Terus terang sangat menyenangkan, meminum minuman panas dengan sekian kerat roti dalam suasana pagi yang nyaman.

Eits, mendadak telepon genggam Bang Ferdy berdering. Sigap Bang Ferdy mengangkat telepon itu dan berbincang soal lokasi di mana kami berada.

Rupanya yang menelepon wartawannya Bang Ferdy yang bertugas di Kutacane. Dan, dia mau bertemu dengan kami.

Usai menganghangatkan badan di warkop itu, kami pun langsung menuju lokasi yang diberitahukan oleh wartawannya Bang Ferdy tadi. Kembali kami melewati kelak-kelok dan melihat sungai besar.  Sempat beberapa kali kami salah arah untuk menuju lokasi yang dimaksud. Akhirnya, setelah bolak-balik kami pun sampai di tempat yang bernama, Lawe Sikap.

“Selamat datang, Bang,” sambut sang wartawan iu begitu bertemu. Kamipun berkenal dan ternyata abang ini bernama Syuhada.

Kamipun disuguhkan teh dengan gula aren. Hm, terus terang, ini mungkin pengalaman pertama saya merasakan teh dengan rasa yang cukup berbeda. “Wah ini gila, manisnya enak kali,” tak mampu saya menahan pujian ke Bang Syuhada.

“Iya ayo minumlah ini rendah gula kok walaupun manisnya nyelekit,” kata Bang Syuhada sembari masuk ke bagian belakang rumahnya.

Kamipun dengan perlahan meminum teh yang telah disuguhkan. Tak lama kemudian Bang Syuhada keluar sambil membawa nasi serta lauk ikan.

“Wah wah, apa ini Syuhada?” tanya Bang Ferdy.

“Alah, udalah Bang Fer santai aja. Kalian kan capek, sarapan dulu. Masih panjang perjalanan kalian lagi menuju lokasi,” balas Bang Syuhada.

Dengan sedikit rasa segan kamipun menyantap makanan yang telah dihidangkan. Dan sekali lagi, ini kali pertama saya makan ikan dengan masakan khas yang dibalut dengan daun. Terus terang, saya tidak tahu itu daun apa, yang pasti itu kayaknya gak ada di Medan.

Lebih parah dari saya, dua teman Bang Ferdy pun lagi-lagi terkesima dengan kuliner yang disajikan. “Gila! Ini enak ini enak banget!” ujar kedua bapak yang berasal dari luar Sumatera ini.

Setelah kenyang dengan kenikmatan yang diberikan, kami segera bergegas. Bukan maksud tidak menghormati tuan rmah, namun kami memang harus mengejar waktu ke lokasi. Pasalnya, kami mau mengambil gambar gladi bersih.

Bang Ferdy kembali mengambil alih setir mobil. Keluar dari kawasan Lawe Sikap, jalanan pun berubah menjadi besar. “Bang Fer udah sini aku bawa, udah capek kali abang itu. Istirahat dulu Bang, nantikan kita masih mau ngambil gladi bersih lagi.”

6,978 total views, 2 views today

Tinggalkan Pesan