Catatan Merekam Saman : Ini Semua Berasal dari Hati

Posted by on Oct 3, 2017 in blak-blakan, melancong | No Comments
Catatan Merekam Saman : Ini Semua Berasal dari Hati

Catatan Merekam Saman : Ini Semua Berasal dari Hati

Oleh Ahmad ‘Jon’ Ridwan Nasution

Aman. Gambar darat sudah ada. Gambar drone juga ada. Apalagi yang kurang? Hm, foto? Ya, foto memang kurang stock. Tapi bukankah saya ke Gayo ini berdasarkan tugas video bukan foto?

Akhirnya tarian selesai. Warga pun tumpah ke dalam lapangan untuk bersalaman serta berfoto dengan penari. Dan di saat bersamaan, MURI memberikan catatan rekor  ‘Penari Saman Terbanyak’ kepada Gayo Lues.

Saya pun berkeliling untuk menyelesaikan tugas, mencari narasumber yang mau diwawancarai. Seorang bapak yang sangat ramah menyambut saya dengan hangat. “Ayo di situ aja biar ramai,” kata si bapak sembari membawaku kepada timnya.

Beberapa pertanyaan langsung saya layangkan. Misalnya soal mendasar tentang bagaimana kesulitan selama berlatih mengingat jumlah penarinya sangat banyak. Lalu, bagaimana menyelaraskan gerakan serta kekompakannya?

“Tidak ada kesulitan, karena kita udah biasa nari seperti ini. Di rumah masing-masing kita udah melakukan ini, jadi mau jumlah nya berapapun tidak sulit. Saman itu berasal dari hati,” kata si bapak.

Tidak puas sampai di situ, saya mencari penari lain. Mungkin karena bapak itu sudah tua, bisa saja dia bilang mudah kan?

Dapat seorang penari anak muda yang umurnya saya rasa masih di bawah saya. Pertanyaan yang sama dengan bapak tadi saya layangkan padanya. Dan, jawabannya, malah membuat saya tercengang. Dengan kata lain, jawabannya tak jauh berbeda dengan bakap tadi! Tak pelak, saya curiga. Apa mungkin jawaban ini disetting?

Saya pun langsung menemui seorang pemerhati tari Saman yang berada di situ. Cukup lama saya menunggu karena banyaknya warga yang ingin berfoto dengan bapak ini. Setelah bisa berbincang dengannya, dia pun bercerita soal karakter orang Gayo yang tak mau dibentak-bentak, tak mau dimarah- marahi. “Orang Gayo itu harus disanjung dan diangkat sehingga apa yang kita inginkan dia menurut,” begitu kata bapak yang ternyata Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gayo Lues Bungkes Hapsah tersebut.

Jawaban ini cukup membuat tanda tanya saya usai. Dan benar, Saman itu berasal dari hati. Kalau tidak dari hati, bagaimana bisa mengumpulkan orang belasan puluhan ribu itu kan? Ya, dibayari pun tiap kampung, kalau tak suka, belum tentu dia mau datang untuk menari. Hm, jangankan nari, nonton pun gak mau saya rasa. Gitulah kurang lebih.

Usai tugasku mencari narasumber saya pergi ke luar stadion. Saya ke stasiun tempat para jurnalis kumpul. Ternyata sudah banyak orang di sana, termasuk Bang Ferdy yang terlihat keletihan.

Tanpa basa-basi, saya ajak Bang Ferdy pulang ke rumah Bang Boy. “Nanti kalo kelamaan makin macet jalan ini, tengoklah itu rame kali Bang,” ucap saya sembari menyembunyikan niat utama untuk segera mengedit video Saman ini, he he he.

Bang Ferdy setuju. Namun, ketika keluar kami terpisah dengan Bang Boy. Akhirnya saya ajak Bang Ferdy untuk ikut segerombolan jurnalis Banda Aceh yang juga hendak keluar dari lokasi tari Saman.

“Woi numpang ya sampek depan aja,” teriak saya.

“Naik aja Bang,” balas seorang yang berada di mobil itu.

Benar benar gila macetnya, mungkin Hari Raya saja tidak seperti ini macetnya. Asli full jalanan di Gayo Lues satu harian itu.

Hampir setengah jam kami keluar dari lokasi tari Saman, padahal normalnya 5 menit saja dari situ menuju kota. Dan, ketika mau memasuki kota, saya melihat Bang Boy. Sontak kami minta diturunkan  di situ dan kembali bergabung dengan mobil yang dibawa oleh Bang Boy.

6,393 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan