Catatan Merekam Saman : Menangislah yang Tak Terbangkan Drone

Posted by on Oct 3, 2017 in blak-blakan, melancong | No Comments
Catatan Merekam Saman : Menangislah yang Tak Terbangkan Drone

Catatan Merekam Saman : Menangislah yang Tak Terbangkan Drone

Oleh Ahmad ‘Jon’ Ridwan Nasution

Swafoto di lokasi Tari Saman, Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues.

 

Kata orang pintar, kopi di Aceh tak perlu dicari, dia akan datang sendiri. He he he. Dan, itu terbukti. Usai memotret gladi bersih senior-senior PFI Aceh pun mengajak kami untuk ke warung di sebuah terminal di Blangkejeren.

“Yok Jon! Besok lagilah motretnya,” ujar seorang senior pewarta foto.

Warung yang dimaksud lebih tepatnya disebut warung makan meski tetap menyediakan kopi. Ya, kami pun menyantap makan siang yang sudah terlambat itu. Sambil makan kami bercakap-cakap soal siapa saja pejabat yang datang esok hari.

“Ya paling gubernur, dari kementrian juga ada kabarnya, sama orang dari MURI-lah” jelas ketua PFI Aceh.

Siap makan, kami ditawari penginapan oleh ‘Yayasan Leuser Lestari’. Adalah Kak Cut, panitia yang berbaik hati itu. “Kalau kalian belum ada penginapan bisa tidur di situ sama kawan-kawan lain,” tawarnya.

Tentu saja saya tidak bisa langsung menjawab. Saya harus berkonsultasi dengan Bang Ferdy kan? Dan ternyata, kami akhirnya memilih untuk menginap di rumah kawannya Bang Ferdy.  “Di rumah kawan abang ajalah Jon biar bisa istirahat kita,” begitu kata Bang Ferdy.

Begitulah, tak lama setelah santap siang plus seruput kopi, kami permisi. Saya memutar balik setir mobil ke arah kota. “Mana bang alamat rumah kawan abang itu?”

“Bentar Jon,” jawab Bang Ferdy sambil menelepon temannya.

“Jon, Jon, cari yang namanya BFC,” kata Bang Ferdy.

“Hah? Apa itu BFC Bang?”

“Blangkejeren Fried Chicken Jon.”

Alamak! Sambil tertawa sayakembali menginjak gas mobil sembari menghidupkan aplikasi google maps. Sempat mutar-mutar juga kami nyari lokasi rumah teman Bang Ferdy ini. Katanya tak jauh dari kota, tapi sudah mau sampai ke arah luar Blangkejeren pun tak kunjung lokasi yang dimaksud kami temukan. Kami pun harus bolak-balik karena google maps tak bekerja seperti yang diinginkan. Fiuh, setelah sekian saat akhirnya ketemu juga. Dan ternyata, sialnya, BFC sudah beberapa kali kami lewati.

“Masuk, masuk lah woi,” sambut sang tuan rumah.

“Boy” tambahnya memperkenalkan diri.

“Udah, udah masuk dulu. Santai-santai dulu. Angkati barang kelen, udah nyantai aja di sini ya, tapi ya kondisi nya ginilah apa adanya,” katanya lagi.

Setelah semuanya selesai, kami langsung terlibat perbincangan ke mana suka. Eh, tak lama datang dari arah dapur istri Bang Boy membawakan kami sepiring bolu dan beberapa gelas teh hangat. “Ini untuk hangatkan badan dulu, minum tehnya,” kata kakak itu.

Usut punya usut, ternyata Bang Boy ini senior Bang Ferdy saat kuliah dulu. Dan Bang Boy ini di Blangkejeren sedang ada kerjaan dengan salah satu NGO. Kebetulan lokasi project-nya di Blangkejeren. “Baru dua bulan,” kata Bang Boy.

Obrolan, minum teh, dan makan kue bolu tersela keininan kami yang mau ke kamar mandi. Maka, kamipun bergantian masuk ke kamar mandi. Ada yang mandi. Ada yang cuci muka. Dan, ada yang buang air. He he he. Saya memilih cuci muka, maklum air di Blangkejeren dingin bak air es. Jadi, mau mandi mikir-mikir, dengan kata lain, sekali aja mandi sehari lah, pikir saya.

Usai bersih-bersih dan membereskan barang, kami pun kembali mengobrol dengan Bang Boy. Dia lalu bercerita tentang Blangkejeren. “Fer, bensin tadi udah kau isi penuh?” tanyanya.

“Udah Bang Boy, begitu kami sampek langsung kami full kan.”

“Sukur lah kelen, kalo gak habis lah kelen. Di sini bensin itu kalok udah masuk diserbu warga, udah gitu 2 sampai 3 hari baru masuk lagi,” terang Bang Boy.

Bang Boy berkisah soal proyeknya di Blangkejeren. “Ada bangun pembangkit untuk penyulingan minyak nilam warga sini, jadi kita mau buat alternatif. Selama ini kan warga pakai mesin, nah harga BBM kan lumayan mahal dan di sini susah. Jadi kita mau buat alternatifnya dari air,” terangnya.

Panjang lebar cerita yang disampaikan Bang Boy. Pun, Bang Ferdy dan dua temannya yang ikut dari Medan itu ikut menimpali. Sementara saya, hm, tertidur di bawah meja yang berada di ruang depan. Lumayan, posisi itu ternyata bisa mengurangi dinginnya Blangkejeren.

Malam pun datang, Bang Boy mulai menawarkan tempat makan andalan. Adalah Warung makan Kak Dah yang ia tawarkan. Kami setuju saja, masalahnya kami bisa dikatakan buta soal kota ini.

Singkat cerita sampailah kami di warung yang dimaksud. “Masuk, masuk. Ambil sendiri makannya,” begitu sambut kakak yang berada di dekat stelling warung tersebut.

“Nanti kalo diambilkan gak abis kan bedosa, bagus kelen ambil sendiri ya,” kata kakak itu lagi yang ternyata sang pemilik warung: Kak Dah.

Lumayan banyak menu yang disajikan di rumah makan Kak Dah itu. Terus terang saya cukup bingung memilih. Pilihan akhirnya saya jatuhkan kepada bebek, iya bebek gulai. Acara makan dimulai dan seperti biasa, kami sangat lahap menyantap. Yang lain pada tambo-tambo makan, tambo lauk tambo nasi. Sayang, saya tak sanggup. Untuk urusan makan ternyata saya kalah dibanding Bang Ferdy dan dua temannya  serta Bang Boy, he he he.

Tiba saat pembayaran, ternyata di luar dugaan. Saya mengira akan mahal. Pasalnya, selain enak dan bermenu yang segar, bukankah di Blangkejeren lagi ada pesta akbar? Ya, adalah wajar jika harga dinaikkan kan? Ya, seperti daerah lainnya. Tapi, biaya makan kami yang berjumlah delapan orang dengan sekian kali nambah, ternyata tak sampai dua ratus ribu rupiah! Dahsyat!.

“Siap ini ngopi di mana kita?” kata Bang Boy.

Betulkan? Kopi di Aceh tak perlu dicari, dia akan datang sendiri. He he he.

Bang Boy pun mengarahkan tujuan ke warung kopi yang dia maksud.  Sesaat kami melewati warung kopi Blower. Warung kopi ini adalah warung yang terbesar dan paling ramai di Blangkejeren. Memang, terlihat banyak anak muda yang nongkrong di situ. Pun, tampak para senior PFI Aceh lagi ngopi di situ. Namun, bukan warung kopi itu lokasi yang kami tuju.

Warung kopi yang dimaksud Bang Boy adalah warung yang berada di dekat Stadion Seribu Bukit Blangkejeren. Kami pun turun dari mobil memilih tempat duduk. Tanpa mikir-mikir kami langsung memesan, “Bang sanger bang ya.” Sanger merupakan salah satu khas kopi yang ada di Aceh, karena di tempat lain tak ada.

Seperti kata orang bijak, setelah kopi didapat maka banyaklah cakap. Ya, begitulah keadaannya. Kami terlibat perbincangan yang panjang. Sayang, waktu tak panjang malam itu. Kami haru kembali ke rumah Bang Boy untuk istirahat. Besok pagi kami sudah harus bergegas agar tak ketinggalan acara, tari Saman masal itu.

Tiba di rumah Bang Boy, hujan. Keadaan yang cukup menolong. Pasalnya, hujan membuat udara lebih hangat, tidak sedingin biasanya. Tapi, ya tetap aja lebih dingin daripada di Medan he he he. Tanpa menunggu lama, kami berempat sudah menarik sleeping bed. Terlelap.

6,259 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan