Empat Jam Memotret Tragedi Mandala, 12 Tahun Tak Hilang

Posted by on Sep 6, 2017 in blak-blakan | No Comments
Empat Jam Memotret Tragedi Mandala, 12 Tahun Tak Hilang

Kobaran api masih menyala dari puing-puing pesawat Boing 737-200 milik maskapai Mandala Airlines yang gagal lepas landas dari Bandara Polonia dan terjatuh di kawasan Jalan Jamin Ginting, Medan (05 September 2005). (Dok Ferdy Siregar for Halo Sumut)

Hujan sempat jatuh sebentar pada pagi ini. Sekejap rintik menyapu Medan pada pukul 09.45, Selasa (5/9/17). Pun pada pukul 15.00, Medan juga masih dibasahi oleh rintik hujan. Sudah 12 tahun berlalu, peristiwa jatuhnya pesawat mandala RI-091 jenis Boing 737-200 masih menyiratkan kenangan khusus bagi masyarakat Medan, Sumatera Utara (Sumut). Gerimis hari ini cukup menawarkan dingin, meskipun tak sampai menusuk tulang.

Pagi itu Ferdy Siregar, Pewarta Foto di salah satu media terbitan Medan melaju mengendarai kendaraan roda dua dari kediamannya. Melewati Jalan Flamboyan, roda dua yang dia kendarai dengan kecepatan 40 kilometer per jam itupun memasuki Jalan Lumban Surbakti. Hingga akhirnya kendaraan itu pun tiba di perempatan Simpang Pos.

Tatkala lampu lalu lintas merona hijau, pria yang akrab disapa Ferdy ini pun melecut gas kendaraannya memasuki Jalan Jamin Ginting Medan. Rintik hujan masih jatuh membasahi Medan, dan agaknya Ferdy merasa ada rasa yang berbeda tatkala melewati jalan itu.

“Ada yang aneh, tak bisa kujelaskan, meskipun sudah 12 tahun berlalu,” katanya kepada halosumut.com, Rabu (6/9).

Spontan dia pun mengisahkan kembali peristiwa Mandala itu. Senin, 5 September 2005, pesawat mandala RI-091 jenis Boing 737-200 gagal take off di udara. Api bercampur asap hitam membumbung ke atas langit. Pekik suara histeris juga terdengar di lokasi kejadian.

“Aku sedang antre di salah satu bank di kawasan Jalan dr. Mansyur Medan. Saat di depan teller, sedang bersiap melakukan transaksi, ponselku berdering. Seorang teman mengabarkan telah terjadi sebuah kebakaran yang hebat di kawasan Jalan Jamin Ginting Medan,” katanya.

Ferdy pun urung menyelesaikan proses transaksi itu. Dia memilih kembali ke rumah, mengambil peralatan kameranya dan segera melesat menuju lokasi kebakaran yang telah diinformasikan oleh temannya tadi.

“Memang saat keluar dari bank, aku sempat melihat ke atas langit, tampak asap gelombang besar yang membumbung. Aku bahkan belum mandi, hanya memakai celana pendek. Dan segera pergi,” ungkapnya.

Waktu itu pukul 10.00 pagi. Macet sudah terlihat di sepanjang jalan menuju ke lokasi kejadian. Kian parah di titik kawasan Jalan Pasar 1 Padang Bulan. Jalanan disesaki oleh kendaraan bercampur manusia. Ferdy pun akhirnya memutuskan menitipkan kendaraannya di sebuah warung. Setelah itu dia berjalan kaki menuju lokasi kejadian. Rupanya mendekati lokasi, tiba-tiba terjadi ledakan.

“Itu karena bahan bakar pesawat yang penuh tumpah ke jalan, dan memasuki parit-parit di sepanjang jalan yang dekat dengan lokasi jatuhnya pesawat,” bebernya.

Ferdy hanya berjarak 100 meter dari titik jatuhnya pesawat. Matanya melihat bagaimana mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Indera penciumannya pun juga mencium bau yang berasal dari mayat-mayat yang telah hangus terbakar. Polisi, pihak pemadam kebakaran, petugas PMI, juga tentara telah ramai melakukan evakuasi dan strerilisasi lokasi di sana. “Semuanya gosong. Aku juga bahkan mencium bau durian yang menyengat,” imbuhnya.

Sebagai pewarta foto, Ferdy pun menjalani tugasnya. Melalui lensa kameranya dia mengabadikan ratusan frame atas kejadian itu. Kabar tentang Gubernur Sumatera Utara, T Rizal Nurdin yang menjadi korban tragedi Pesawat Mandala itu santer terdengar. Ada yang mengatakan ada, pun sekaligus juga ada yang mengatakan tidak. Sampai akhirnya, kata Ferdy, Tengku Erry, yang masa itu menjabat sebagai bupati Serdang Bedagai datang ke lokasi kejadian. Tengku Erry juga merupakan adik kandung dari Rizal Nurdin. Muram menyelimuti wajah Erry kala itu, sesekali air mata menetes dari matanya.

“Beliaulah (Erry) yang mengenali mayat gubernur Rizal. Ditandai oleh kepala tali pinggang yang dipakai gubernur,” ujarnya.

Empat jam lamanya Ferdy di sana. Tepat pukul 14.00 dia bergegas pergi meninggalkan lokasi peristiwa itu.

“Aku harus kembali ke kantor, menanggungjawabi frame-frame foto ini,” bilangnya.

9,351 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan