Eny Karim, Cukup Empat Bulan Jadi Gubsu

Posted by on Sep 6, 2017 in gubsu tanda petik, sang mantan | No Comments
Eny Karim, Cukup Empat Bulan Jadi Gubsu

Foto Eny Karim (Sumber : Google)

Dari urutan masa tugas tersingkat para Gubsu, Eny Karim, juaranya. Dia cukup empat bulan saja menjadi gubernur, tepatnya  Gubsu ke-7, menjabat sejak 8 April 1963 hingga 15 Juli 1963.

Eni Karim adalah tokoh kelahiran Batusangkar 22 Oktober 1910. Setelah menyelesaikan pendidikannya OSVIA (sekolah pamong praja zaman Belanda) pada 1931, Eni kemudian ditugaskan ke Kalimantan Barat sebagai ambtenaar (pegawai negeri pada zaman Belanda). Kala itu usianya 22 tahun.

Di Kalimantan Barat, daerah yang dituju adalah Mempawah. Di tempat tersebut Eni diangkat menjadi GAIB (Gediplomeerd Ambtenaar Inlandsche Bestuur) atau pegawai pamong praja setingkat di bawah camat. Setelah delapan tahun mengabdikan diri di Mempawah, Eni pun dipindahkan ke Solok pada 1940. Dirinya kemudian tahun 1942 dirinya dipromosikan menjadi asisten demang di Solok.

Eni Karim merupakan sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Hal itu dibuktikan selama pengabdiannya di sejumlah tempat yang amanahkan kepadanya. Saat Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942, sejumlah demang pun ditangkap. Namun Eni Karim berhasil selamat berkat bantuan seorang China yang beristrikan wanita Jepang. Dia berhasil disembunyikan dari tentara-tentara Jepang. Namun akhirnya Jepang mengaku kewalahan menjalankan roda pemerintahan dan akhirnya melepas kembali para demang-demang yang ditangkap dan mengembalikan jabatan mereka masing-masing. Hal tersebut pun ternyata berlaku pada Eni Karim. Dia pun

diangkat menjadi Asisten Demang di Bukittinggi pada 1943.

Setelah di Bukittinggi, Eni Karim kemudian dipindahkan ke Air Bangis tahun 1944 dengan jabatan yang sama. Karirnya kemudian naik menjadi bupati pada 1948.

Pada 1956, Eni diangkat menjadi Menteri Pertanian dalam kabinet Ali Sostroamidjojo dan pernah menjadi delegasi dalam Internasional food and Agriculture Organization (FAO) tahun 1957. Setelah kabinet Ali jatuh, roda pemerintahan dijalankan oleh Ir Djuanda. Namun posisi Eni Karim tidak berubah, dia tetap dipercaya menjadi menteri pertanian. Namun Eni Karim pernah ditangkap saat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) diumumkan 15 Februari 1958. Eni Karim dianggap sebagai orang yang tidak mendukung PRRI. Tapi kemudian Eni Karim dilepaskan karena tuduhan yang disangkakan kepadanya ternyata tidak terbukti.

Selepas menjadi Menteri Pertanian, Eni Karim akhirnya mengabdi di Departemen Dalam Negeri menjadi Direktur Pemerintahan Umum Departemen Dalam negeri. Setelah itulah Eni ditugasi sebagai Gubernur Sumatera Utara,  tepatnya pada 8 April 1963 hingga 15 Juli 1963. Terakhir dia menjabat sebagai Pembantu Utama Mendagri hingga pensiun pada 1976.

Eni Karim meninggal di Jakarta pada 5 September 1995 dan dikebumikan di pemakaman umum karet. (ragam sumber)

6,966 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan