EWP Tambunan, Gubsu yang Selalu Jalan Kaki ke Kantor

Posted by on Aug 16, 2017 in gubsu tanda petik, sang mantan | No Comments
EWP Tambunan, Gubsu yang Selalu Jalan Kaki ke Kantor

Foto EWP Tambunan (Sumber : Google)

Bicara soal gaya Gubsu kesebelas yang sangat merakyat ini seperti tiada habisnya. Ya, ketika sekarang heboh soal pejabat yang merakyat, dia malah telah melakukannya jauh hari. Tepatnya ketika almanak masih bertuliskan 1978 hingga 1982. Dan, itu semua bisa dikatakan bukan pencitraan.

Lahir di Balige pada 1927, sosok yang masih sangat dirindukan warga Sumatera Utara ini, diberi nama lengkap Edwar Waldemar Pahala Tambunan. Di kemudian hari, tokoh berpangkat mayor jenderal ini lebih dikenal dengan EWP Tambunan. Ya, dialah sang ‘Peci Merah’. Kegemarannya memakai peci merah khas Melayu yang diadopsi dari era Turki Utsmaniyah itu seakan menunjukkan keberadaannya yang beda di generasinya. Ya, dia adalah Gubsu yang melegenda sebagai sosok yang merakyat, jujur, bersih, bebas KKN, dan gemar berkunjung hingga ke pelosok.

Soal kedispilinan jangan ditanya. Latar belakang sebagai tentara telah menempa karakternya sedemikian rupa. Bahkan, mantan Komandan Seskoad ini malah sangat dikenal sebagai Gubsu yang selalu berjalan kaki dari kediamannya ke kantor gubernur yang berjarak hampir 1 kilometer.

Pun dalam soal busana, EWP cenderung berpenampilan layaknya masyarakat biasa. Itulah sebab, ketika dia berkunjung ke daerah (yang biasanya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu), kepala daerah dan pejabat di daerah banyak yang terkejut dan kelabakan karena sama sekali tak menduga kalau yang datang ternyata gubernur mereka.

Parahnya lagi, Gubsu yang dikenal sebagai salam Sumatera Utara ‘Horas’, ‘Mejuah-juah’, ‘Njuah-juah’, dan ‘Ahoi’ tersebut, juga lumayan ‘kurang ajar’ soal makanan. Dia tidak memilih. Bahkan, lebih sering makan di pinggir jalan. Hingga suatu hari, saat makan pecal di warung kecil, EWP melihat dua anak SD pulang sekolah dengan berjalan kaki tanpa ada yang menjemput. Kedua anak itu, yang ternyata abang beradik, dia panggil. Keduanya pun langsung dia beri makan. EWP pun terlibat perbicangan dengan keduanya. Tersebutlah kalau kedua bocah itu tinggal di sebuah rumah yang jaraknya sangat jauh dari sekolah. Dan, dari perbincangan itu diketahui kenapa orangtua mereka tak menjemput. Ya, keduanya adalah anak pencari rongsokan alias tukang botot. Spontan EWP mengeluarkan dua lembar uang  Rp10.000 dari dompetnya (mata uang yang paling besar saat itu). “Ini Ompung kasih uang sama kalian dan bilang sama orangtua kalian uang ini dari Ompung Gubernur,” kata EWP. Tidak itu saja, dia pun menyuruh sopir dan ajudan mengantarkan kedua anak tersebut dengan mobil dinas ke rumah mereka.

EWP memang berpihak kepada rakyat. Dia termasuk orang yang menggagas pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) dengan mengharuskan perkebunan besar memberikan lahannya seluas dua hektar untuk  dikelola rakyat yang berada di sekitar perkebunan. Ya, Gubsu yang meninggal di Jakarta pada 17 Januari 2006 dalam kondisi kehidupan yang sangat sederhana itu memang tidak ingin rakyat hanya menjadi kuli di perkebunan. Yang dia mau, rakyatnya harus menjadi pemilik sebagai plasma yang dibina oleh perusahaan perkebunan inti. (ragam sumber)

7,541 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan