Kemping 1000 tenda

Posted by on Aug 8, 2017 in melancong | No Comments
Kemping 1000 tenda

Kemping 1000 Tenda di kawasan Paropo, Danau Toba. (Halo Sumut/Edy Regar)

(Paropo, halosumut) PERHELATAN kemping 1000 tenda di Pulau Paropo, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara pada akhir pekan, 22 Juli 2017 lalu boleh jadi menyisakan sebuah pesan bagi para penikmat alam. Selain membuka sudut lain tentang Danau Toba yang luas dan terkenal itu, setidaknya penyelenggara kegiatan itu (Rumah Karya Indonesia) berupaya membuka wacana baru, bagaimana setiap orang yang datang ke Paropo menikmati kemping bukan sebatas ‘membuka tenda’, namun juga ada nilai-nilai budaya yang juga lekat dalam setiap kegiatan kemping. Pun termasuk menyelesaikan perkara sampah yang lekat mewarnai kegitan kemping.

Pulau Paropo, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, dulunya bernama asli Pulau Situngkir atau Pulau Rumatanggal berada di perbatasan Desa Paropo dan Desa Silalahi III. Akses menuju Pulau Paropo sebenarnya lebih dekat datang dari arah Pematang Siantar, Karo atau Berastagi dan Kota Medan.  Masuk melalui Simpang Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, dengan jarak tempuh sekitar 14 kilometer (km). Nah jika dari arah Dairi, bisa masuk melalui Simpang Silalahi, Tanjung Beringin, Kecamatan Sumbul dengan jarak tempuh 16 km. Berangkat dari Kota Medan, melajulah menuju Tongkoh, Berastagi. Tiba di sana, pusatkan perhatian kepada Taman Hutan Raya (Tahura), sebab ini adalah pertandanya. Dari sana, akan tembus ke Desa Pekan Tiga Panah, Kabupaten Karo. Setidaknya melalui jalur ini bisa menghemat 20-30 kilometer dari jalur Medan-Berastagi-Kabanjahe.

Boleh dibilang, jalan yang dilewati terbilang mulus. Dari Desa Pekan Tiga Panah, Kabupaten Karo berbeloklah ke kiri menuju arah ke Simpang Merek. Kemudian sekitar 300 meter di depan, akan bertemu dengan tanda kawasan wisata Tongging, air terjun Sipiso-Sipiso. Sampai di sana, akan bertemu jalanan menurun hingga sampai ke Desa Tongging, Kabupaten Karo. Sekitar delapan (8) km dari sana, tibalah di Desa Paropo, Kabupaten Dairi. Pulau Paropo sangat cocok dijadikan sebagai tempat kemping, selain daerahnya landai, pantai Paropo berpasir putih. Menambah nilai plus dari pantai Paropo karena memiliki air yang bersih dan jernih. Agaknya itulah sebab banyak orang yang mengunjungi Pulau Paropo.

Biasanya pulau ini banyak dikunjungi oleh para pecinta alam, mahasiswa, anak sekolah, bahkan cukup banyak komunitas yang datang ke sana.

Jalan menuju Pulau Paropo ini dapat dilintasi oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Khusus kendaraan roda empat, paling tidak menghabiskan sekitar 50-60 liter bensin, untuk  perjalanan pulang pergi, yang jika dirupiahkan senilai dengan Rp. 300.000. Untuk memasuki lokasi kemping ini, pendatang diwajibkan membayar biaya retribusi sebesar Rp. 20.000 per orang, sudah termasuk biaya parkir dan lapak tenda. Tapi biaya retribusi itu hanya berlaku pada momen-momen tertentu, sedangkan pada hari-hari biasa, biaya retribusi yang dibebankan hanya untuk membayar parkir, yakni sebesar Rp.5000 per kendaraan.

Sayangnya, di beberapa spot kemping, kebersihan tidak begitu terjaga, beberapa sampah terlihat, salah satunya adalah botol minuman bekas. Selain itu, lokasi kemping kurang memiliki rambu-rambu penunjuk arah. Ini pula yang membuat beberapa pengunjung menjadi bingung arah.

Sebagai tips bagi yang ingin mencoba kemping di kawasan ini, sebaiknya membawa peralatan lengkap kemping. Mulai dari tenda, nesting (alat masak), kompor gas, sleeping bad (kantung tidur), senter, matras, losion anti nyamuk, garam, dan tak ketinggalan losion sunblock. Satu hal lagi perhatikan juga alas kaki. Ini penting untuk menapak dan berjalan di medan kawasan kemping dan sekitarnya. Nah jika merasa lapar atau haus, setidaknya sudah berdiri tiga warung di kawasan kemping Paropo. Menariknya warung itu menyediakan segala perlengkapan kebutuhan para pekemping. Jangan lupa piknik yes! Hehehe (elina lubis)

10,250 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan