Khairul Ghazali, Teroris CIMB Niaga Pilih Jadi Guru

Posted by on Aug 8, 2017 in sang mantan | No Comments
Khairul Ghazali, Teroris CIMB Niaga Pilih Jadi Guru

Foto Ustadz Khairul Ghazali di lokasi Pondok Pesantren. (Rizky Firman For Halo Sumut)

Medan, (halosumut) Sebuah masjid telah berdiri kokoh di atas lahan 6500 meter. Persis di sebrang bagian belakang masjid, bangunan yang mirip asrama juga sudah di bangun. Khairul Ghazali tersenyum tatkala menyapa halosumut. Ustad berperawakan sedang dan berkulit agak legam ini tampak tenang. Semula demi kebutuhan foto, halosumut mengusulkan untuk melakukan wawancara bersama anak-anak didiknya. Namun dia menolak. Katanya, sebaiknya mereka tidak mendengar pertanyaan-pertanyaan terkait teror.

“Maklumlah jiwa mereka masih belum pulih, hati mereka pun belum sembuh,” katanya kepada halosumut.

Khairul Ghazali, akrab disapa Ustad Gozali memprakarsai gagasan membangun pesantren Al Hidayah di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang ini kala berada di bui. Dia terlibat dalam kasus teror bank Bank CIMB Niaga Medan yang terjadi pada 18 Agustus 2010 lalu. Pesantren ini teruntuk bagi anak-anak yang menjadi korban akibat orang tua, keluarga, jaringan yang telah menjadi mantan teroris di Indonesia. Saat wawancara ini dilakukan, dia mengaku baru saja bebas satu tahun dua bulan.

Mula-mula dia membangun asrama dan mushola. Sepuluh anak berusia Sekolah Menengah Pertama (SMP) telah menjalani kegiatan belajar di asrama. Keberadaannya pun tercium oleh pemerintah, bahkan sampai ke telinga internasional. BNPT pun langsung menghubunginya. Usai pertemuan timbulah gagasan untuk menjadikan pesantren ini sebagai Pusat Pembinaan Mantan Teroris dan Keluarga dari seluruh Indonesia. Saat momen peletakan batu pertama pun komitmen itu ditegaskan kembali. Ghazali pun yakin, baginya sudah saatnya mujahidin dilakukan untuk kemajuan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi.

“Di Poso cukup banyak jumlah anak-anak yang putus sekolah. Stigma teroris melekat pada mereka,” katanya.

Persis janji BNPT nantinya mereka (anak-anak korban Poso) akan dikirim bersekolah di pesantren ini, sambungnya. Menurut Ghazali rata-rata mantan teroris yang muncul ke publik malah menjadi pengamat. Sedangkan yang mengolah pendidikan boleh dikatakan tak ada. Terkait peserta didik tadi, Gozali bilang sebetulnya ada sekitar 70 anak lagi yang ingin bersekolah di pesantren. Karena ruang kelasnya minim, maka hanya 10 anak saja yang bisa disekolahkan di pesantren. Dua anak diantaranya berasal dari Belawan. Orang tuanya sampai saat ini masih menjalani hukuman di Nusa Kambangan. Tentu kedua anak tadi bisa bersekolah di pesantren atas izin dari orang tuanya, juga disaksikan oleh Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara (Sumut).

“Perlu digarisbawahi, pesantren ini bukan ingin mencetak generasi teroris di Sumut. Pesantren ini justru ingin mematikan terorisme di Indonesia. Traumatik yang dialami anak-anak ini sangat luar biasa,” ungkapnya.

Diungkapkannya ada 20 ribuan anak yang bapaknya terlibat dalam kasus teroris. Bahkan sebagian anak menyaksikan bapaknya ditembak saat digrebek. Tentu ini menimbulkan dendam dalam diri anak. Hal ini pun diaminkan para psikolog. Apalagi rentan dimanfaatkan oleh jaringan unit-unit teror yang mencari generasi baru. Malahan dia bilang kedepannya Indonesia akan lebih gawat, pesantren ini dibangun untuk memutus itu. Anak-anak mereka disadarkan. Apa yang dilakukan oleh orang tua mereka adalah salah.

Diakui Ghazali gagasan membangun pesantren sebagai pusat pembinaan keluarga mantan teroris muncul saat dia mendekam di dalam bui. Vonis enam tahun yang dia jalani seakan membuka cakrawala pemikiran baru dalam dirinya. Dialog yang dia lakukan bersama rekan-rekannya semasa di dalam bui bercerita tentang keluhan. Mereka mengeluh tentang lemahnya pendidikan, selaras dengan kesulitan ekonomi yang membelit mereka. Pemerintah telah meniadakan mereka, membunuh mereka dan menghukum mereka. Anak-anak mereka pun menerima hukuman yang serupa dengan orang tua mereka. Terlantar, tidak diterima dan sanksi sosial tak kunjung berhenti. Padahal menurutnya ini merupakan tanggung jawab pemerintah. Justru yang terjadi adalah pembiaran-pembiaran.

Sepuluh anak didik telah berkumpul di sebuah bale yang viewnya berhadapan langsung dengan kolam ikan. Semuanya berjenis kelamin laki-laki. Mereka khusuk membaca kitab alquran. Persis anak-anak pada umumnya, beberapa anak di antaranya tampak sedang bercanda. Apalagi tatkala pandangan kamera mengarah kepada mereka. Sebuah tawa yang riang pun mereka tunjukkan.

Khairul Ghazali juga sempat mengatakan Kota Medan termasuk menjadi kantong-kantong Jihad selain Solo dan Poso.

“Banyak jihadis Medan yang dicuci otaknya baik oleh pemain lama yang masih DPO pun oleh para ideolog baru yang terus berselancar di dunia maya dan dunia nyata,” katanya.

Menurutnya teror bom di Gereja Katolik Santo Yosep, Jalan Dr. Mansyur Medan yang gagal terjadi beberapa waktu lalu menunjukkan jihadis sudah bersarang di Kota Medan. Ghazali bilang pelaku teror gereja Dr. Mansyur Medan itu bukanlah calon pengantin pertama yang berasal dari Medan, dan bukan pula yang terakhir. Masih banyak calon pengantin lain yang siap menyusul untuk melakukan ‘Amaliyat Jihad, yang lebih tepat disebut sebagai aksi teror yang sesungguhnya.

“Ini sangat memalukan dan mencemarkan nama Islam,” tegasnya.

Sel-sel jihad sudah lama beraksi di Kota Medan. Persis seperti yang dibeberkan Ghazali, mulai dari Komando Jihad tahun 1976, pembajakan Garuda Woyla tahun 1981, peledakan gereja tahun 2000, perampokan bank Lippo tahun 2003, perampokan bank Sumut (2009), perampokan bank CIMB (2010) dan penyerangan Polsek Hamparan Perak (2010). Semua kejadian ini menunjukkan sel-sel jihad di Medan aktif.

Peristiwa bom gereja yang gagal menunjukkan Sumatera Utara rentan dengan aksi-aksi terorisme. Bahkan ditegaskan Ghazali sudah banyak anak-anak muda di Kota Medan yang terkontaminasi dengan pemikiran radikal. Malah katanya percobaan bom gereja ini hanyalah salah satu aksi teror yang kecil dan dengan daya ledak yang kecil.

“Namun bagi para pelaku teror, tidak penting kecil atau besar, yang penting bagi mereka ialah teroris hadir di Sumut dan menjawab apa yang selama ini disuarakan para pejabat pemerintah bahwa Sumut aman dari terorisme,” bilangnya.

Kita tidak bisa menutup mata, sahutnya. Pasalnya anak-anak muda belasan tahun yang disiapkan untuk menjadi calon “pengantin” seolah-olah antri menunggu. Satu-satunya yang bisa memutus mata rantai terorisme hanyalah melalui program kontra radikalisasi. Praktiknya adalah dengan mengutamakan deradikalisasi melalui rehabilitasi terhadap mantan napi teror dan pendidikan terhadap anak-anak dan jaringannya.

“Pendekatan dan pencegahan dini hanya bisa dilakukan melalui dunia pendidikan, yakni memasukkan mata pelajaran deradikalisasi dalam mata pelajaran muatan lokal,” ujarnya.

Tanpa pendekatan ini sambungnya, negara hanya memubazirkan dana untuk program-program yang tidak ada hasilnya seperti seminar-seminar dan dialog-dialog yang kerap diadakan di hotel-hotel. Jika upaya pemutusan mata rantai terorisme tidak segera dilakukan, Sumut akan menyaksikan calon pengantin baru berselancar dengan bom-bom baru dalam skala yang lebih besar, karena menurut analisis Ghazali, kejadian teror gereja Dr. Mansyur Medan kemarin hanya merupakan uji coba. (Elina Lubis)

 

7,424 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan