Manado Bukan Cuma Bunaken Jo…

Posted by on Aug 22, 2017 in kombur | No Comments
Manado Bukan Cuma Bunaken Jo…

Manado Bukan Cuma Bunaken Jo

Oleh: Hendra Broetal

“Taksi jo…!”

Suara itu terdengar saat awak keluar dari Bandara Sam Ratulangi, Manado. Melalui isyarat tangan awak pun menolak tawaran itu. Kebetulan hari itu, awak memang sudah dijemput seseorang.

Kami pun menaiki mobil menuju rumah makan bernama ‘Unyil’. Oleh beliau awak ditawari makan coto. Singkat dia ceritakan, rumah makan ini sudah lama hadir di Manado. Bahkan sejak beliau kecil, rumah makan ini sudah ada. Coto adalah makanan khas Sulawesi. Persis seperti di Medan, yang dikenal dengan sebutan soto Medan. Bedanya coto dimakan bersama lontong ketupat.

Awak memang lapar, jadi semangkuk coto itupun sangat cocok untuk menyegarkan badan awak ini kembali segar. Setelah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju hotel. Sepanjang perjalanan, cukup banyak cerita yang awak dengar dari beliau mengenai Manado. Memang benar, jika sudah kenyang, hilanglah sudah kekakuan. Saat dia asyik bercerita, sesekali awak mengeluarkan celetukan. Awak katakan padanya, laki-laki di negeri ini selalu membawa cerita menarik tentang dua kota di Indonesia. Pertama Kota Bandung dan kedua adalah Kota Manado. Dan tanpa awak terangkan, mereka pun spontan tertawa. Ah dasar laki-laki. Hahaha. Tanpa terasa kami pun sampai di hotel yang dituju. Berada di Boulevard. Kawasan ini sangat terkenal di Manado, persis dengan Boulevard di Singapura.

Sejenak kami berpisah, awak pun berbenah diri untuk melanjutkan kisah di Manado, yakni merasakan angin malamnya. Sebuah warung kopi yang jaraknya hanya 100 meter dari hotel tempat awak menginap pun menjadi incaran. Beberapa warung kopi berderet di sana. Hingga akhirnya awak mendengar suara live music yang berasal dari sebuah warung kopi. Suara itu cukup menggoda. Awak pun memasuki warung kopi itu, mengambil tempat yang kosong. Awak memilih segelas kopi susu dan seporsi pisang goreng.

Sembari meletakkan pesanan awak, sang pelayan juga meletakkan piring kecil berisi sambal merah. Awak sedikit kaget. Dalam hati untuk apa sambal merah itu? Namun tanpa bertanya, pisang goreng itu awak cocolkan ke sambal merah itu. Alamak, mantap kali awak rasa. Lidah memang tak bisa berbohong. Perpaduan antara manisnya pisang dengan pedasnya sambal menjadikan kenikmatan tiada tara. Ah, enak kali awak rasa.

Bersamaan dengan itu, seorang wanita terlihat menaiki panggung organ tunggal di warung kopi itu. Tanpa basa-basi, musik pengiring pun memulai intro, dan suara emas wanita itu terdengar sedap di telinga awak. Ya benar kata banyak orang, suara orang Medan dan Manado sama-sama emas. Tak awak pungkiri sekejap terpana memandang wanita itu, dan sesekali kami saling berpandangan. Sempat terlintas di benak awak, seandainya awak bisa bernyanyi, pastilah kami berduet. Namun apa daya, keinginan tak seimbang dengan kemampuan, jadilah awak pendengar yang budiman.

Malam pun bertambah larut, awak harus segera bergegas kembali ke hotel. Besok sekian jadwal telah menanti harus dikerjakan. Sebetulnya ada keinginan yang kuat untuk melihat Jembatan Soekarno yang awak dapat dari paman Google. Awak yakin, pastilah itu bukan jembatan biasa. Apalagi menamainya dengan nama presiden pertama di negeri ini.

Keras dering alarm terdengar membangunkan pagi pertama di Manado. Dengan sibuk dan gagap alias sigap, awak pun langsung pesan ojek online menuju Jembatan Soekarno. Tak jauh rupanya dari hotel tempat awak menginap. Dan di sinilah awak, di jembatan Bung Karno, Sang Proklamator.

Alamak, cuaca pun sangat bersahabat dengan kamera awak. Satu kali jepret, dua kali jepret, berkali-kali menjepret. Awak tak ingin kalah dengan lajunya matahari yang terus berlomba dengan shuter kamera. Dari jembatan tampak sebuah prasasti, dan nama Puan Maharani jelas tertulis di prasasti itu. Rupanya beliaulah yang meresmikan jembatan ini; sang cucu Proklamator.

Ah sudahlah. Awak tak ingin membuang waktu. Awak pun kembali asyik menjepret, dan tak perlu awak rasa untuk berkomentar setiap frame yang awak ambil. Biarlah kalian yang menilainya sendiri. Yang pasti, awak hanya ingin menunjukkan bahwa Manado bukan hanya Bunaken. Cukup banyak hal lain yang indah untuk bisa dinikmati di sini. Tiba-tiba ponsel awak berdering, itu artinya awak harus kembali bekerja memenuhi permintaan klien.

Usai menyiapkan segala materi pekerjaan, awak bersama klien pun bergerak mencari makan. Sopir yang membawa kami itu bernama Opo. Dia pun tak berhenti berbicara tentang Manado. Dan tak awak pungkiri, soal wanita menjadi bahan cerita kami. Kulit wanita Manado itu seperti ubi kupas, celetuk Opo. Ini adalah istilah yang baru pertama kali awak dengar. Spontan awak membayangkan bagaimana putihnya ubi setelah dikupas dari kulitnya. Awak rasa istilah itu tak berlebihan. Memang apa adanya, kulit orang Manado terkenal putih bersih. Hahaha. Oh Manado, kau bukan cuma Bunaken jo

7,697 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan