Mandala Airlines Ubah Politik Sumut

Posted by on Sep 6, 2017 in etalase | No Comments
Mandala Airlines Ubah Politik Sumut

Kobaran api masih menyala dari puing-puing pesawat Boing 737-200 milik maskapai Mandala Airlines yang gagal lepas landas dari Bandara Polonia dan terjatuh di kawasan Jalan Jamin Ginting, Medan (05 September 2005). (Dok Ferdy Siregar for Halo Sumut).

Tragedi 12 tahun lalu saat Mandala Airlines jatuh di kawasan Padangbulan Medan tidak hanya menyisakan duka hingga kini. Namun, kecelakaan pesawat mengubah peta politik di Sumatera Utara. Bagaimana tidak, gubernur aktif dan mantan gubernur yang juga anggota DPD serta seorang anggota DPD lainnya menjadi korban tewas.

Ya, adalah T Rizal Nurdin sang gubernur yang aktif. Ya, adalah Raja Inal Siregar sang mantan gubernur dan anggota DPD. Ya, adalah Abdul Halim Harahap anggota DPD lainnya.

Meninggalnya Rizal Nurdin secara otomatis menjadikan wakilnya, Rudolf Pardede menjadi gubernur. Dari pergantian ini mau tak mau terjadi perubahan dalam pemerintahan. T Rizal Nurdin adalah tokoh militer, dia seorang mayor jenderal. Selain itu, Rizal berasal dari keluarga bangsawan Melayu. Sedangkan Rudolf Pardede adalah seorang pengusaha. Pun, dia berasal dari keluarga superkaya, TD Pardede.  Perbedaan kembali didukung dengan latar agama keduanya, Rizal Muslim dan Rudolf Kristen.

Perubahan politik tidak hanya terjadi di pucuk pimpinan Sumatera Utara. Di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dua tokoh meninggal. Artinya, anggota DPD dari Sumut tersisa dua orang lagi yakni Nurdin Tampubolon dan Yopie S Batubara. Dilihat dari latar belakang daerah atau suku, keempat anggota DPD cenderung sama, yaitu Tapanuli atau Batak. Namun, jika dilihat dari latar belakang agama, maka hanya Nurdin Tampubolon yang Kristen. Dengan kata lain, tiga Muslim dan satu Kristen.

Efek kematian dua anggota DPD tersebut, terpilihlah dua anggota DPD baru. Menariknya, dilihat dari komposisi latar belakang agama, formasi menjadi terbalik. Ya, Parlindungan Purba menggantikan Abdul Halim Harahap dan Lundu Panjaitan menggantikan Raja Inal Siregar. Artinya, tinggal Yopie S Batubara saja yang Muslim. Dengan kata lain, tiga Kristen dan satu Muslim.

Selain itu, tragedi 12 tahun lalu itu juga cukup mengaburkan sosok yang digadang-gadang layak menjadi gubernur berikutnya. Ya, sosok Abdul Halim Harahap bisa dikatakan fenomenal, dialah tokoh yang meraih suara rakyat terbanyak. Pada pemilu 2004, Abdul Halim Harahap mendapatkan 810.232 suara atau 15,38 persen dari total 1,980,044 suara yang sah. Kemudian Nurdin Tampubolon mendapat 321.570 suara atau 6,10 persen, sedangkan Raja Inal Siregar mendapatkan 316.358 suara atau 6,00 persen dan Yopie Sangkot Batubara mendapatkan 277.649 suara atau 5.27 persen. Sedangkan, Parlindungan Purba memperoleh 245.020 suara atau 4,65 persen dan Lundu Panjaitan memperoleh 17.838 suara atau 4,13 persen.

Pun, Abdul Halim Harahap lebih dari sekadar ketua Al Washliyah ketika itu, tapi juga merupakan kader terbaik yang memiliki trade record cukup membanggakan sepanjang karirnya di Al Washliyah. Abdul Halim Harahap merupakan kader yang diusung secara independen dengan kekuatan penuh Al Washliyah dan tidak pernah bersentuhan dengan partai politik manapun. Menariknya, pascakemenangan Abdul Halim Harahap, kader-kader Al Washliyah mulai bermunculan dalam bursa politik Sumatera Utara dan cukup percaya diri untuk mengaku sebagai ‘kader Al Washliyah’.

Artinya, tragedi 12 tahun lalu yang menewaskan 140-an jiwa itu telah mengubah atau menghapus tiga ‘gubernur’ dalam percaturan politik yaitu mantan gubernur, gubernur aktif, dan calon gubernur. (ragam sumber)

 

 

 

 

 

6,523 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan