Marah Halim Harahap, Jadi Gubsu Dulu Baru Jadi Jenderal

Posted by on Aug 16, 2017 in gubsu tanda petik, sang mantan | No Comments
Marah Halim Harahap, Jadi Gubsu Dulu Baru Jadi Jenderal

Foto Marah Halim Harahap (Sumber : Google)

Biasanya setelah menjadi jenderal, seorang tokoh baru menjadi gubernur. Kebiasaan itu ternyata tidak berlaku bagi Marah Halim Harahap. Ya, Gubsu legendaris itu malah diangkat sebagai gubernur saat pangkat militernya masih kolonel.

Ya, pada 1967, sang kolonel yang tengah menjabat sebagai Kepala Staf Kodam (Kasdam) II Bukit Barisan terpilih menjadi gubernur setelah melalui mekanisme Sidang DRPD Propinsi Sumatera Utara. Barulah selama menjabat sebagai Gubernur sejak 31 Maret 1967 hingga 12 Juni 1978, Marah Halim mendapat kenaikan pangkat dua kali dari Kolonel menjadi brigadir jenderal (brigjen) dan terakhir menjadi mayor jenderal (mayjen).

Anak petani dari Tapanuli Selatan ini memang istimewa. Selain dekat dengan masyarakat, tegas, dan paham kebutuhan masyarakat Sumatera utara, dia juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Ini terbukti ketika Marah Halim meminta pihak swasta (TD Pardede) untuk membangun hotel mewah di Medan dan Parapat agar para investor asing terutama ASEAN tertarik datang dan bersedia menanamkan modalnya di Sumatra Utara. Dan, TD Pardede bersedia dengan senang hati.

Kemampuan komunikasi Marah Halim tidak sekadar ke pengusaha atau pemerintah pusat hingga terbangunnya dua bandara di Tapanuli, tepatnya Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara, dia juga sangat dekat dengan olahragawan serta seniman. Ini terbukti dengan hadirnya sebuah event sepakbola internasional, Marah Halim Cup, dan terbangunnya Studio Film Sunggal.

Khusus Studio Film Sunggal, dana pembangunan saat itu dikutip dari pajak nonton selama  tahun 1975-1977. Tak pelak, hadirnya Studio Film Sunggal turut memberi dampak lahirnya praktisi-praktisi perfilman Sumut saat itu.

Soal Marah Halim Cup tentunya sudah cukup banyak tersiar kabarnya. Setidaknya sejak 1974, event ini terdaftar dalam agenda FIFA. Bahkan, sang pencetus event ini tercatat menyediakan piala setinggi 1,5 m dibalut 6 kg emas yang dipesan dari London dengan harga (ketika itu, 1972, sekitar Rp6 juta). Tahun berikutnya, untuk menyambut tim luar negeri, Stadion Teladan, Medan, tempat turnamen berlangsung, dipermak lagi dengan melengkapi lampu yang memungkinkan pertandingan berlangsung malam hari.

Begitilah sang kolonel yang menjadi jenderal setelah jadi Gubsu itu. Lahir di Tanusira, Tapanuli Selatan pada 28 Februari 1921, lebih kurang 94 tahun kemudian dia tutup usia. Ya, Marah Halim meninggal pada Kamis, 3 Desember 2015 pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Permata Bunda Medan. Gubsu ke-10 ini meninggal setelah 10 tahun menderita penyakit stroke. Marah Halim kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Medan secara militer. (ragam sumber)

7,952 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan