Masalah Itu Bernama ‘Hoaks!’

Posted by on May 15, 2018 in blak-blakan | No Comments
Masalah Itu Bernama ‘Hoaks!’

Ferdy Siregar (kiri) sedang menjelaskan tentang penyebaran foto hoaks dalam kegiatan Focus Group Discussion, memuat tema ‘Foto Hoaks di Era Digitalisasi’, Senin (14/5) di Hotel Garuda Plaza Medan. (Ahmad Ridwan Nasution/halosumut)

Medan, (halosumut)

Fenomena penyebaran berita pun foto hoaks adalah masalah yang sangat serius di Indonesia. Fenomena ini sudah terjadi sekian lama, bahkan sejak dulu. Hanya istilahnya saja yang berubah dan semakin masif. Hal ini dikatakan Pengamat Sosial dan Politik, Shohibul Anshor Siregar kala didaulat bicara dalam kegiatan Focus Group Discussion, bertajuk ‘Foto Hoaks di Era Digitalisasi’, di Hotel Garuda Plaza Medan, Senin (14/5)

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Komunikasi Difusi bersama Ikatan Alumni Magister Ilmu Komunikasi UMSU dan Ikatan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UMSU ini, setidaknya menghadirkan pengamat dan praktisi, juga tokoh masyarakat di Kota Medan. Selain Shohibul Anshor Siregar, hadir juga sebagai nara sumber, Ketua KNPI Sumut Sugiat Santoso, dan Ferdy Siregar yang merupakan Redaktur Foto Harian Analisa.

Foto Hoaks menjadi penting untuk digarisbawahi dalam diskusi ini untuk mengkaji lebih dalam beredarnya foto-foto bohong atau hoaks yang kian marak di Indonesia belakagan ini, khususnya menjelang Pemilu mendatang. Persis yang diungkapkan Shohibul, berita dan foto hoaks merupakan masalah yang hingga kini masih sulit diatasi pemerintah dan aparat penegak hukum.

“Ada beberapa alasan seseorang merekasaya dan menyebar foto hoaks, di antaranya untuk bersenang-senang, pencitraan hingga menjatuhkan lawan politik,” rincinya. Hal itu pun diaminkan Ketua Sugiat Santoso, menurutnya akhir-akhir ini foto dan berita hoaks menjadi akar masalah perseteruan dalam kehidupan bermasyarakat. “Elit-elit politik memanfaatkan foto hoaks untuk kepentingan mereka. Sementara masyarakat, dengan pengetahuannya yang masih rendah ikut-ikutan bertengkar, adu argumen yang memecah belah,” ungkapnya.

Masalah ini harus diselesaikan secara serius. Jika tidak, kata Sugiat, masyarakat hanya akan terjebak dalam situasi yang merugikan. “Hanya orang-orang tertentu yang meraup untung dari masalah ini. Sementara kehidupan masyarakat jadi kacau,” hematnya.

Terkait itu, Ferdy Siregar mengatakan, pelaku rekayasa dan penyebar foto hoaks bukan saja dari oknum tertentu atau masyatakat, tetapi juga pernah dilakukan oleh fotografer profesional yang bekerja di media massa. “Ini dilakukan agar fotonya bisa lebih menarik atau dramatis,” ungkapnya.

Selain itu, kata Ferdy, hasil karya wartawan profesional juga kerap dijadikan bahan untuk penyebaran foto hoaks. Dia memaparkan sejumlah foto wartawan yang diedit sedemikian rupa oleh pihak tertentu untuk menyebar kabar palsu. Oleh karena itu, katanya, pemilik foto asli menjadi salah satu kontrol dalam menekan gerakan ini. “Masyarakat atau pembaca juga menjadi benteng terakhir untuk melawan foto atau berita hoaks. Jika mendapat informasi, terutama dari media sosial, pastikan dulu kebenarannya sebelum ikut menyebarkan,” pungkasnya.

Diskusi ini juga diikuti oleh sejumlah praktisi media, LBH Medan, aktivis pers mahasiswa, pengamat ekonomi, unsur pemerintah dan mahasiswa. Fenomena foto atau berita palsu ini dibahas dari berbagai perspektif untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya dari fenomena yang terjadi. (rel)

2,214 total views, 5 views today

Tinggalkan Pesan