Posisi Muka Tentukan Prestasi di Pilgubsu

Posted by on Aug 16, 2017 in kombur | No Comments
Posisi Muka Tentukan Prestasi di Pilgubsu

Posisi Muka Tentukan Prestasi di Pilgubsu

Oleh Kenon BB

Masih soal Pilgubsu lah yang kutulis ini ya. Bukan napa-napa, cuman masih teringat aja dengan itu. Kekmana gak teringat kan, udah banyak kali foto muka-muka bakal calon yang mau ikut bertaruh. Sampek-sampek, pas Sinabung batuk-batuk kemarin, ada pula muka bakal calon yang terpotret.

Ya gitulah, kemanapun bergerak, rasanya ada aja muka orang itu. Gak satu orang lah. Mukanya ganti-ganti. Si Polan ada di sana. Si Polin ada di sini. Si Polun di seberang sana. Si Polon di seberang sini.  Dan, si Polen ada di mana-mana. He he he.

Tapi, tampaknya memang harus dimaklumi. Namanya juga sedang usaha memperkenalkan diri ya kan? Semua bakal calon itu kan harus mengenalkan diri lebih dan lebih. Kalopun dia udah terkenal, ya, dia mau dikenang. Kalo dia sudah dikenang, ya, dia mau dipilih. Makin banyak yang pilih, ya menanglah dia. Gitu kan?

Sayangnya, semak juga melihat orang tu kan? Bosan. Apalagi kalo mukanya dipasang entah di mana-mana, sampek ngalangi rambu lalulintas pula. Kek kemarin tu, pas di simpang tiga Karya Wisata Medan Johor. Ceritanya, aku yang lagi naik kereta kena lampu merah. Posisiku dari Jalan Karya Wisata mau ke Jalan AH Naution ke arah Asrama Haji. Sebagai pengguna jalan yang baik, berhentilah aku pas melewati zebra cross. Bukan mau melangggar marka jalan, tapi angkot yang berwarna kuning  — yang mau belok ke arah Simpang Pos – sibuk kali. Dia suruh aku maju biar dia bisa belok. Padahal, posisi keretaku saat itu sudah paling depan, agak ke kiri memang. Tapi ya sudahlah, bukan itu poinnya. Poinnya, kalo klen tinggal di Medan, pasti tahulah simpang tiga itu langganan macet. Simpang itu kroditlah. Nah, karena posisiku sudah terdorong jauh ke depan, aku gak bisa liat lampu merah kan? Jadi, aku gak tau sudah ijo ato belum. Ini penting, karena kalo aku terlambat lihat lampu merah berubah jadi ijo, maka orang yang dari Simpang Pos bisa duluan masuk ke Jalan Karya Wisata. Gawat kan? Masak lampu ijo aku gak bisa jalan!

Untungnya, pas di depanku, pas di posisi tusuk sate dari Jalan Karya Wisata, ada satu lampu merah. Jadi, aku tinggal liat itu aja tanpa harus liat ke belakang kan. Masalahnya, saat itu lampu merah yang kumaksud gak keliatan. Dia ditutupi baliho muka gubernur.Fotonya si gubernur sedang beri sesuatu ke veteran gitulah. Bah! Kekmana aku mau lihat lampu ijo kan?

Pertamanya aku marah sendiri. Masak gubernur gak tau peraturan lalu lintas ya kan. Tapi belakangan kupikir, pasti bukan dia yang pasang. Pasti anak buahnya. Apalagi kupikir-pikir, dia kan mau maju jadi gubernur lagi. Ya, sudahlah, ketawa ajalah aku kan. Namanya juga jual muka, jadi cari tempat yang paling banyak diliat ya kan. Akhirnya, kubiarkan ajalah orang yang dari arah Simpang Pos menelusup ke Karya Wisata meski yang lampu ijo sebenarnya untuk kami yang dari Karya Wisata.

Dan ternyata, orang yang suka tertawa itu memang sering ditolong, besoknya foto gubernur itu sudah dipindah ke pinggir. Lampu ijo bisa terlihat lagi dengan jelas dari Jalan Karya Wisata.

Dari cerita itulah tulisanku ini bersumber. Maksudku gini, kadang untuk mencapai sesuatu kita kan bisa menghalalkan segala cara. Soal foto, ya halalkan saja segala tempat biar cepat dilihat. Masalah itu melanggar aturan kan bisa dipindah, yang penting terpajang aja dulu. Ada sepersekian jam atau sepersekian hari muka itu terpajang, cukuplah untuk promosi kan? Pun, begitu dia dipindah, pasti orang nyari pindahnya ke mana hehehehe.

Bukan maksud mau ngajari para bakal calon untuk menyemaki Medan dengan mukanya, ini soal kekmana caranya biar diingat. Dulu aku pernah makan bareng dengan Meutya Hafid yang anggota DPR RI itu. Kami makan di sebuah rumah makan Padang di Jalan Sempurna Medan. Saat itu, Meutya masih jadi calon legislatif. Nah, pas mau duduk, dia bukannya memilih kursi yang menghadap ke dalam warung. Dia pilih kursi ke arah luar. Ya, kutanya kenapa gitu kan? Setahuku kalau orang ngetop, biasanya menghindari khalayak ya kan? Eh, si Meutya jawab sambil senyum-senyum. “Biar kelihatan,” gitu katanya.

Dan, aku paham langsung. Bukankah dia mau mencalonkan diri, jadi makin banyak yang liat, kemungkinan dia dipilih kan makin banyak. Iya pula ya kan.

Balik lagilah kita ke Pilgubsu ya. Soal penempatan muka memang menentukan prestasi. Kuyakini itu ada benarnya. Ini bukan soal foto aja. Ini bisa berarti bagaimana para bakal calon gubernur itu mencari muka partai politik yang akan menjadi perahunya nanti. Pun, bagaimana orang tu mencari muka supaya dipilih rakyat. Salah posisi muka bisa gawat lho. Misalnya mendadak baik, padahal sebelumnya dikenal kurang baik. Misalnya mendadak peduli, padahal sebelumnya acuh tak acuh. Bagusnya jujur aja ya kan. Kalo tak baik dan tak peduli, ngaku aja tak baik dan tak peduli. Tobatlah. Biasanya orang yang tobat kan dapat tempat yang bagus. Kalo memang sudah baik dan peduli, ya sudah santai aja. Rakyat kan tau. Rakyat punya catatan sendiri lho.

Tapi, ya sudahlah, itu ajalah dulu ya.  Kalo ada yang tersinggung, jangan marah lho….

7,020 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan