Raja Inal Siregar, Gubsu yang Ajak Perantau Bangun Kampung

Posted by on Aug 16, 2017 in gubsu tanda petik, sang mantan | No Comments
Raja Inal Siregar, Gubsu yang Ajak Perantau Bangun Kampung

Foto Raja Inal Siregar (Sumber : Google)

Lahir dari pasangan Kario Siregar dan Rodiah Hutasuhut, Raja Inal Siregar akhirnya menjadi gubernur Sumatera Utara yang ke-13. Dan selama sepuluh tahun menjabat, dia kembangkan konsep marsipature hutana be dengan serius dan fokus.

Konsep ini diambil dari bahasa Batak yang artinya adalah membangun atau membenahi kampung halaman sendiri. Konsep ini ditujukan kepada putra-putri daerah yang merantau dan sudah sukses di perantauan untuk kemudian ingat dan ikut membangun kampung halamannya. Sebuah konsep pembangunan regional yang menjadikan putra daerah sebagai garda terdepan daerah. Dan, perantau yang dimaksud tidak terpeta pada satu suku saja. Ini menyangkut segala suku yang ada di Sumatera Utara baik itu Batak, Melayu, Jawa, Tionghoa, Minang, Aceh, Tamil, dan sebagainya.

Gubsu yang berpangkat letnan jenderal TNI ini sejatinya lahir lahir di Medanpada 5 Maret 1938.  – meninggal di Medan. Dia memerintah dari tahun 1988 hingga 1998. Setelah tidak lagi menjabat sebagai gubernur, ia kemudian menjadi anggota DPD dari Sumatera Utara.

Jebolan Akademi Militer pada 1961, memulai karier di Desa Ampat, Kalimantan Tengah. Di usianya yang baru 46 tahun, dia sudah dipercaya menyandang bintang satu dengan menjadi Pangdam XIII Merdeka-Manado. Setahun kemudian, dia diangkat menjadi Pangdam Siliwangi. Cuma ada dua orang Batak yang bisa sampai ke posisi itu, saat itu, dia dan Jenderal AH Nasution. Namun, Presiden Soeharto memutuskan lain. Oleh panglima tertinggi TNI yang duduk di puncak kekuasaan sentralistis, dia diperintahkan ‘pulang kampung’.

Raja Inal meninggal dalam kecelakaan pesawat Mandala Airlines pada 5 September 2005 di Jl Jamin Ginting, Medan. Kecelakaan nahas itu menewaskan 150 orang penumpang, awak pesawat dan warga di sekitar lokasi kejadian. Pesawat jenis Boeing 737-200 buatan tahun 1981 itu jatuh dan meledak sesaat setelah lepas landas dari Bandar Udara Polonia. Pesawat itu rencananya akan bertolak ke Jakarta via Padang. Kematian itu menjadi ironi karena Raja Inal termasuk orang yang menggagas pemindahan Bandara Polonia Medan ke sebuah hamparan tanah di tepi laut, bernama Kualanamu. (ragam sumber)

8,727 total views, 4 views today

Tinggalkan Pesan