Sutan Kumala Pontas, Walikota Surabaya Jadi Gubsu

Posted by on Aug 9, 2017 in gubsu tanda petik, sang mantan | No Comments
Sutan Kumala Pontas, Walikota Surabaya Jadi Gubsu

Foto Sutan Kumala Pontas (Sumber Google)

Menyebut nama Kota Surabaya saat ini mau tak mau teringat dengan walikotanya yang suka blusukan dan berkarakter kuat, Tri Rismaharini. Tapi ternyata, bagi Surabaya, apa yang dilakukan Risma bukan cerita baru. Sejarah mencatat, ada walikota sebelumnya yang telah lebih dulu seperti itu. Dan, walikota yang dimaksud kemudian hari menjadi gubernur Sumatera Utara keenam.

Walikota yang dimaksud lahir pada 15 Agustus 1892 di Barbaran Julu. Namanya Radjamin Nasution Gelar Sutan Kumala Pontas. Sebelum menjadi walikota, Kumala Pontas merupakan Kepala Bea dan Cukai di era Belanda di Surabaya. Namun, dia tidak berhenti disitu. Kebetulan rakyat dan tokoh adat di Surabaya memintanya menjadi anggota dewan kota (Gemeenteraad). Inilah awal mula mengapa dia tiba-tiba ‘ngetop’ di Surabaya tahun 1931.

Gebrakan pertama ketika hari pertama dia duduk di dewan adalah mengajukan proposal yang pro rakyat. Pada masa itu, kekuasaan Belanda penuh ketidakadilan dimana-mana, termasuk di Surabaya. Hal ini tentu sudah diketahuinya juga bahwa di kampungnya di Tapanuli Selatan, penindasan kaum Belanda juga tiadataranya (bahkan sejak era Edward Douwes Dekker/Multatuli yang membangkang kebijakan pemerintah Belanda yang pada waktu itu Edwarr sebagai controleur di Natal, Mandheling en Ankola tahun 1842).

Sebagai informasi, Kumala Pontas yang seorang doktern tak lain adalah mantan aktivis Stovia dan pernah menggagas bersama dr. Soetomo mendirikan ‘Boedi Oetomo’ yang bergerak di bidang pendidikan. Kala itu, anak-anak Stovia menyadari hanya lewat pendidikanlah ketidakadilan kaum Belanda dapat dientaskan.

Dia mulai menyingsingkan lengan baju, memulai babak baru bertarung dengan kaum Belanda di parlemen Kota Surabaya. Karirnya di parlemen makin menguat hingga terpilih menjadi wakil Jawa Timur mewakili Kota Surabaya ke parlemen pusat (Volksraad) dari Partai Parindra tahun 1938. Posisinya menjadi ‘double gardan’, di satu tangan anggota senior (wethouder) dewan Kota Surabaya, dan di tangan lain sebagai anggota Volksraad.

Pada masa itulah dia memperkenalkan gaya blusukan. Dari kampung ke kampung melihat rakyatnya dan menampung aspirasi rakyatnya. Dalam hal tertentu, dia tidak segan-segan menegur dan menggertak walikota Fuchter yang bangsa Belanda, jika pembangunan yang dijalankan jauh menyimpang dari kebutuhan rakyat. Figur Kumala Pontas galak terhadap Belanda, sebaliknya santun terhadap rakyatnya. Karakter yang lengkap ini juga disukai pasukan Jepang, ketika datang pertama kali ke Surabaya. Militer Jepang lalu mengangkatnya sebagai walikota pada 1945, menggantikan kedudukan Fuchter yang saat ini sibuk mengurusi soal deportasi bangsa Eropa dari Surabaya.

Namun nyatanya, Jepang malah membuat rakyat lebih sengsara. Mesi dilarang blusukan oleh Jepang, Kumala Pontas tak mau diam. Dia mengikuti nalurinya sendiri, di luar area balai kota, Kumala Pontas tetap blusukan mengunjungi rakyatnya. Dia konsisten dalam urusan rakyat.

Ketika Jepang takluk atas sekutu, pimpinan republik di Jakarta mengangkatnya menjadi walikota. Konon, pengangkatan Kumala Pontas yang menjadi walikota incumbent itu atas penilaian Ir Soekorno. Namun tidak lama menjabat sebagai walikota republik di Surabaya, dia sudah menghadapi perang kembali.

Setelah pengakuan kedaulatan RI, Sutan Kumala Pontas yang bertindak sebagai walikota di pengungsian dan belum pernah dipecat, tak dinyana haknya diambilalih alias dirampas. Soal ini sempat berlarut-larut dan tidak jelas ujung pangkalnya. Namun, dia tidak mau berpolemik berlama-lama untuk urusan itu dan lebih memilih berjuang kembali lewat parlemen untuk bisa tetap dekat dengan rakyatnya. Akhirnya Dul Arnowo yang ditunjuk menjadi walikota. Karir Radjamin Nasution semakin melejit hingga menjadi anggota dewan di Perlemen Pusat di Jakarta. Ini untuk kedua kali Radjamin Nasution wakil rakyat di pusat, sebelumnya di era Belanda tahun 1938.

Akhirnya setelah menjadi gubernur Sumatera Utara keenam dengan masa jabatan 18 Maret 1956- 1 April 1960, Radjamin Nasution Bergelar Sutan Kumala Pontas meninggal dunia. Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Rangkah Surabaya dan menolak dimakamkan (sesuai wasiat ke anak-anaknya) di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Surabaya. (ragam sumber)

7,256 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan