Tanjung Pura Dikoyak Sepi

Posted by on Mar 20, 2018 in melancong | No Comments
Tanjung Pura Dikoyak Sepi

Tanaman Wungu tampak mekar di atas Makam T. Amir Hamzah yang berada di area Masjid Azizi, pada Jumat (9/3), Tanjung Pura, Langkat. (halosumut/Hendra Syamhari)

Langkat, (halosumut)

TUJUH puluh dua tahun sudah waktu menoreh sejarah pada batu nisan berwarna putih itu. “almarhum T. Amir Hamzah, putera T.H. Mohd. Adil, Wakil Republik Indonesia Pertama Daerah Langkat. Lahir di Tanjung Pura, 11 Februari, 1911, meninggal, 20 Maret 1946, dikebumikan di Binjai, dalam masa revolusi sosial.”

Disaksikan oleh senja yang ronanya mencipta warna langit bersemu merah keoranyean, kontras dengan warna tanaman wungu di atas kubur hari itu, pada Jumat sore (9/3), kala halosumut menginjakkan kaki ke Kota Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara.

Menapak kaki ke Tanjung Pura adalah sebuah perjalanan sejarah bagi halosumut. Jika dari Stabat, kota tua yang menyisakan peninggalan masa lampau ini bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Persis lampau yang melekat pada kampung halaman Amir Hamzah ini, kota ini terkesan tua, sepi, dan panas. Kalaupun ada keramaian, hanya terpusat di sekitar pasar.

Beberapa bagian masih terdapat bangunan tua peninggalan Belanda, yang cukup memanjakan mata. Bangunan rumah-rumah panggung khas Melayu, juga bangunan rumah-rumah Tionghoa di dekat pasar. Beberapa bangunan di antaranya terlihat tak terawat, bahkan ada yang mau rubuh. Bicara tentang Amir Hamzah, maka Masjid Azizi, sebagai peninggalan salah satu sultan Langkat merupakan bagian dari torehan sejarah itu. Makam Amir Hamzah berada di area masjid, juga beberapa makam anggota keluarga Kesultanan Langkat.

Kondisi Madrasah Tsanawiyah Jam’iyah Mahmudiyah yang berada di belakang Masjid Azizi tampak tidak terawat, Jumat (9/3), Tanjung Pura, Langkat. (halosumut/Hendra Syamhari)

Persis di belakang masjid, terpisah dari area masjid, di sanalah Madrasah Tsanawiyah Jam’iyah Mahmudiyah berada. Kini usianya sudah 100 tahun lebih. Tampak sederhana, bahkan cenderung tidak terawat. Kondisinya memprihatinkan dan terabaikan. Padahal kota ini hanya berjarak 20-30 kilometer dari Selat Malaka, langsung berseberangan dengan negara tetangga.

Terbaik di Zamannya

Amir Hamzah, Pangeran Melayu Langkat ini kisah hidupnya kerap dibaca sebagai kisah sebuah kaum yang kalah. Dilansir dari berbagai sumber, seorang pemikir sastra, A. Teeuw bahkan menyematkan pandangannya perihal berpulangnya Amir pada Sang Khalik. Tragis pada tahun yang suram, 1946. Katanya kematian Amir merupakan lambang sedih tentang betapa tak bisa dipertemukannya masa lampau Melayu dengan masa depan Indonesia.

Sastrawan HB. Jassin malah menyebut pemuda bersantun tinggi ini sebagai lelaki berwajah dan berhati lembut, dan sempat dikukuhkan dalam berbagai situs penting di pusat negara Indonesia, antara lainnya adalah taman kota Amir Hamzah di Jakarta dan Masjid di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dicatat sejarah diresmikan Gubernur Ali Sadikin, 7 Januari 1977. Sayangnya pada 2013, masjid itu dirobohkan. Miris, karena keadaan itu persis mengoyak halaman-halaman di buku sejarah.

Amir Hamzah adalah Pangeran Langkat Hilir, Pemimpin Teluk Haru, Bendahara Paduka Raja, dan Ketua Pengadilan Kerapatan Kesultanan Langkat. Sekaligus, dia juga seorang cerdik pandai, sastrawan, dan seorang penyair. Tak ada yang menampik Madrasah Tsanawiyah Jam’iyah Mahmudiyah, Tanjung Pura, Langkat dalam sejarah hidup Amir Hamzah.

Bukan hanya Amir, Adam Malik yang merupakan Wakil Presiden Indonesia pertama juga pernah belajar di sana. Kala itu, Langkat menjadi salah satu dari tempat yang dituju oleh pencari-pencari ilmu dari berbagai daerah. Tersebut dalam sejarah, selain dari masyarakat Langkat yang belajar di sana, banyak pelajar-pelajar yang datang dari dalam dan luar pulau Sumatera, seperti Riau, Jambi, Tapanuli, Kalimantan Barat, Malaysia, Brunei dan lain sebagainya.

Mulanya madrasah ini hanya disediakan untuk anak-anak keturunan raja dan bangsawan saja,  namun pada perkembangannya justru memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk dapat belajar dan menuntut ilmu. Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah, yang mempunyai arti ‘Gerakan Mulia untuk Pengajaran Kebajikan’, merupakan lembaga pendidikan yang dibangun oleh Sultan Langkat Abdul Azis Abdul Djalil Rahmadsyah pada 22 Muharam 1330 H atau 15 Desember 1912 M.

Masjid Azizi merupakan masjid peninggalan Kesultanan Langkat yang berada di kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Masjid ini terletak di tepi jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Medan dengan Banda Aceh, Jumat (9/3). (halosumut/Hendra Syamhari)

Sejarah sendiri tak menampik itu, Masa itu Langkat merupakan tempat pendidikan dengan kualitas pendidikan yang terbaik. Para pendidiknya di masa itu adalah para tuan guru yang didatangkan langsung dari Kairo (Mesir), Saudi Arabia, dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Masa itu Kesultanan Langkat bahkan membiayai pendidikan bagi murid-murid yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, baik ke Mekkah, Madinah, pun Mesir. Nah sekembalinya dari Timur Tengah, para santri yang dikirim oleh Sultan diminta mengabdi dan mengajar di Jam’iyah Mahmudiyah.

Kini Tanjung Pura menyisakan halaman-halaman buku sejarah yang koyak itu melalui bangunan peninggalan Kesultanan yang tersisa. Idealnya pemerintah setempat harus cepat mengambil langkah. Gagasan pelestarian Kota Tanjung Pura saat ini tentulah dianjurkan. Paling tidak cagar budaya berupa bangunan-bangunan tidak menghilang satu persatu. Setidaknya dengan mengembalikan wajah kawasan kota, akan memunculkan karakter dari Kota Tanjung Pura. Dengan keunikannya tersendiri mampu menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Tanjung Pura. Persis harap yang ideal, pelestarian ini nantinya akan meningkatkan taraf perekonomian masyarakat setempat. Entahlah, apakah kelak nasib bangunan bersejarah ini sama dengan masjid Amir Hamzah di TIM Jakarta? Raib, dikoyak sepi.  (hendra broetal)

2,503 total views, 3 views today

Tinggalkan Pesan