Tengku Rizal Nurdin, Gubsu Empat Presiden

Posted by on Sep 6, 2017 in gubsu tanda petik, sang mantan | No Comments
Tengku Rizal Nurdin, Gubsu Empat Presiden

Foto Tengku Rizal Nurdin (Sumber : Google)

Pengalaman Tengku Rizal Nurdin sebagai gubernur Sumatera Utara tampaknya sangat sulit diulang. Bagaimana tidak, gubernur yang tewas dalam kecelakaan Mandala Airlines pada September 2005 lalu itu, bertugas di bawah kepemimpinan empat presiden!

Mengalahkan Prof Dr Usman Pelly MA dan Asal M Situmorang dalam pemilihan gubernur yang dilakukan DPRD Sumut, sang mayor jenderal akhirnya dilantik sebagai gubsu ke-14 oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid pada Senin, 15 Juni 1998. Atau, tak sampai satu bulan setelah lengsernya Presiden Soeharto. Artinya, Rizal harus memimpin Sumut ketika gerbong reformasi berjalan dengan kencangnya.

Masa itu tampuk kepemimpinan nasional baru saja dipegang BJ Habibie, yang menggantikan Soeharto. Persoalan besar pada masa itu tekanan masalah ekonomi dan ketidakpuasan terhadap pelaksanaan reformasi. Sejumlah persoalan kerakyatan zaman masa Orde Baru mencuat ke permukaan. Selain itu terjadi sejumlah gangguan keamanan sebagai imbas konflik di Aceh.

Rizal tetap dengan tugasnya sebagai gubernur. Mendukung terciptanya iklim keamanan yang kondusif dan dinamis dalam kaitan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilu di Sumut nyaris tanpa preseden berarti. Hanya sempat terjadi pengulangan Pemilu di Kota Sibolga karena masalah tinta palsu. Di kancah politik nasional, MPR memilih Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 1999.

Ketika Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memimpin, persoalan utama di Sumut adalah tuntutan dan demonstrasi terus-menerus masalah tanah. Sementara perselisihan perburuhan juga banyak. Sejumlah bom meledak di rumah ibadah. Kondisi keamanan di Sumut sempat ditingkatkan setelah Abdurrahman Wahid mengeluarkan maklumat pada 22 Juli 2001 yang menetapkan negara dalam keadaan darurat sipil, pembekuan DPR dan MPR, serta pembekuan Partai Golkar.

Maklumat itu justru menjadi bumerang bagi Wahid karena memicu percepatan Sidang Istimewa MPR yang akhirnya berujung pada pencabutan mandat Wahid sebagai presiden serta menunjuk Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai presiden.

Semasa pemerintahan Megawati, Rizal Nurdin mendapat pujian karena dinilai berhasil memimpin Sumut. Itulah sebab, jelang akhir masa jabatan pertama sebagai gubernur, Megawati termasuk salah satu pihak yang mengharapkan Rizal maju lagi dalam pemilihan berikutnya dan didukung penuh Fraksi PDIP di DPRD Sumut.

Menariknya, tokoh kelahiran 21 Februari 1948 itu malah sempat menolak. Bahkan, Eddi Rangkuti, sekretaris PDIP Sumut pada masa itu mengalami penolakan sampai dua kali. Rizal selalu menekankan kalau dirinya sudah ingin beristirahat dari panggung politik. Tetapi PDIP berkeyakinan, Rizal merupakan putra terbaik untuk memimpin kembali. Pada pertemuan ketiga, permintaan itu dipenuhi Rizal. Tapi dia tidak bersedia sampai jabatan selesai.

“Saya tidak mau sampai selesai. Saya tidak lebih dari dua tahun. Nantinya saya akan menulis buku saja,” ujar Eddi menirukan ucapan Rizal waktu itu seperti disiarkan di http://rizalnurdin.blogspot.co.id.

Pemilihan digelar pada 26 Mei 2003, dipimpin Ketua DPRD Sumut Ahmad Azhari. Pada pemilihan putaran pertama, pasangan Rizal-Rudolf yang dicalonkan Fraksi PDIP memperoleh 39 suara. Disusul pasangan yang dicalonkan Fraksi Partai Golkar Chairuman Harahap-HN Serta Ginting dengan perolehan 27 suara. Sedangkan pasangan Amrun Daulay-Baskami Ginting yang dicalonkan Fraksi Partai Amanat Nasional, mendapat 19 suara.

Karena tidak satupun calon memperoleh suara melebihi 50 persen tambah 1 suara, maka dilanjutkan putaran kedua. Calon yang berhak maju pada putaran kedua, hanyalah dua pasangan dengan perolehan suara tertinggi, Rizal-Rudolf dan Chairuman-Serta Ginting. Hasilnya pasangan Rizal-Rudolf unggul dengan angka 51 suara, sementara pasangan Chairuman-Serta Ginting mendapat 33 suara.

Tengku Rizal Nurdin dan Rudolf Matzuoka Pardede akhirnya dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno pada Senin, 16 Juni 2003 di Gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol Medan.

Kerja besar Rizal semasa Megawati, adalah pelaksanaan Pemilu dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Ini pekerjaan merepotkan, apalagi untuk pertama sekali Indonesia melakukan pemilihan langsung. Beberapa bulan sebelum pemilu, setiap momen dimanfaatkan Rizal Nurdin untuk mengimbau semua pihak agar mendukung pelaksanaan Pemilu dan Pilpres. Hingga kemudian pemilihan presiden secara langsung akhirnya dimenangkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden.

Dan, SBY-JK dilantik pada 20 Oktober 2004. Kerja di bawah kepemimpinan SBY tidaklah lama, nyaris tak sampai setahun. Ya, tepatnya 5 September 2005, Tengku Rizal Nurdin meninggal dalam tragedi kecelakaan pesawat Mandala Airlines di kawasan Padangbulan Medan.

Atau, dua tahun setelah dia menjabat Gubsu untuk periode keduanya. “Saya tidak mau sampai selesai. Saya tidak lebih dari dua tahun…,” seperti kata anak kedua dari pasangan Tengku Nurdin dan Tengku Rafiah itu saat bersedia menjadi gubernur lagi. (ragam sumber)

7,951 total views, 6 views today

Tinggalkan Pesan