SERDANG BEDAGAI, Halosumut.com – Klaim bahwa kasus dugaan penghalangan kinerja jurnalistik yang melibatkan Kepala Dusun (Kadus) I Desa Bogak Besar, Misno, telah berakhir damai dibantah oleh wartawan Syahrial.
Syahrial menilai beredarnya foto dirinya berjabat tangan dengan Misno di media sosial maupun aplikasi pesan WhatsApp telah menimbulkan kesan seolah-olah persoalan tersebut telah selesai.
Padahal, menurut Syahrial, pertemuan tersebut baru sebatas penjajakan awal dan belum menghasilkan kesepakatan perdamaian yang dituangkan secara resmi.
Ia pun mempertanyakan motif penyebaran foto tersebut apabila kemudian digunakan untuk menggiring opini publik bahwa persoalan telah tuntas.
“Jangan hanya karena ada foto berjabat tangan kemudian publik digiring untuk percaya bahwa persoalan sudah selesai. Foto bukan dokumen perdamaian dan jabat tangan bukan bukti bahwa seluruh persoalan telah diselesaikan,” tegas Syahrial, Minggu (9/8/2026).
Pertemuan Awal Jangan Dipelintir Menjadi Pernyataan Damai
Kasus tersebut bermula dari dugaan tindakan penghalangan terhadap aktivitas jurnalistik yang diduga dilakukan Kadus I Bogak Besar, Misno, di Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), pada Rabu (29/7/2026).
Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian setelah diberitakan dan mendapat sorotan di tengah masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak bertemu pada Jumat (7/8/2026) di Kantor Hukum MR. Y, kawasan Firdaus, tepatnya di perumahan depan SPBU.
Dalam pertemuan tersebut memang terdapat momen jabat tangan yang kemudian beredar. Namun, Syahrial menegaskan bahwa momen tersebut tidak dapat serta-merta ditafsirkan sebagai bukti bahwa persoalan telah selesai.
Menurutnya, jabat tangan tersebut hanya merupakan bagian dari pertemuan awal untuk melihat kemungkinan penyelesaian secara baik-baik.
“Pertemuan itu memang ada. Jabat tangan juga memang ada. Tetapi jangan dipelintir menjadi seolah-olah sudah ada perdamaian final. Itu dua hal yang berbeda,” ujarnya.
Syahrial menegaskan, hingga pernyataan tersebut disampaikan, belum terdapat dokumen resmi yang ditandatangani kedua belah pihak sebagai bukti kesepakatan perdamaian.
Ia menyebut belum ada akta kesepakatan perdamaian maupun dokumen tertulis yang menyatakan perkara telah selesai. Selain itu, menurut Syahrial, masih terdapat sejumlah komitmen yang menjadi pembahasan dalam pertemuan dan belum dituntaskan.
Foto Disebut Berpotensi Menggiring Opini
Persoalan kembali menjadi sorotan setelah foto pertemuan tersebut disebut beredar melalui WhatsApp dengan narasi yang mengarah pada kesimpulan bahwa Syahrial dan Misno telah berdamai.
Syahrial mengaku kecewa karena foto tersebut, menurutnya, justru dikirimkan oleh Misno melalui WhatsApp disertai permintaan agar dibuat pemberitaan dengan tema “sudah damai”.
Bagi Syahrial, permintaan tersebut justru menjadi persoalan baru. Ia mempertanyakan mengapa sebuah proses yang menurutnya masih menggantung harus dikemas seolah-olah telah selesai.
“Kalau memang sudah selesai, tunjukkan kesepakatannya. Jangan hanya foto yang ditampilkan. Masyarakat berhak mengetahui fakta sebenarnya, bukan diarahkan untuk mempercayai sebuah kesimpulan hanya berdasarkan foto,” tegasnya.
Syahrial juga menyoroti keterlibatan sekitar dua oknum wartawan lain yang disebut turut menyebarkan foto tersebut dengan narasi bahwa persoalan telah berakhir damai.
Menurutnya, tindakan tersebut berpotensi membentuk opini publik yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Harga Diri Wartawan Bukan Barang yang Bisa Diselesaikan dengan Foto
Syahrial menegaskan bahwa persoalan yang dipersoalkannya bukan sekadar masalah pribadi antara dirinya dengan seorang kepala dusun.
Baginya, dugaan penghalangan terhadap wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik menyangkut persoalan yang lebih besar, yakni penghormatan terhadap kebebasan pers dan profesionalitas wartawan dalam memperoleh serta menyampaikan informasi.
“Penyebaran foto dengan narasi yang tidak sesuai fakta merendahkan harga diri saya sebagai wartawan. Jangan sampai perjuangan menegakkan kemerdekaan pers seolah-olah bisa selesai hanya dengan foto berjabat tangan,” katanya.
Ia meminta seluruh pihak tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kasus tersebut telah selesai sebelum seluruh proses dan komitmen yang telah dibicarakan benar-benar dipenuhi.
Syahrial juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan izin tertulis untuk menjadikan foto tersebut sebagai dasar pemberitaan yang menyatakan bahwa perkara telah selesai.
“Kalau memang ada yang mengatakan sudah damai, silakan tunjukkan dokumen perdamaiannya. Kalau tidak ada, jangan membuat kesimpulan sendiri dan kemudian menyebarkannya kepada publik,” ujarnya.
Syahrial: Jangan Bungkus Persoalan dengan Seremonial
Menurut Syahrial, perdamaian seharusnya dibuktikan dengan kesepakatan yang jelas, komitmen yang dipenuhi, serta penyelesaian persoalan secara transparan, bukan sekadar seremonial berjabat tangan di depan kamera.
Ia menilai narasi “sudah damai” yang beredar justru berpotensi mengaburkan pokok persoalan yang sejak awal menjadi sorotan.
“Kalau baru tahap awal, katakan tahap awal. Kalau belum ada kesepakatan final, jangan disebut sudah selesai. Saya tidak mau publik dibohongi oleh sebuah foto,” pungkasnya.
Dengan demikian, hingga Minggu (9/8/2026), Syahrial menegaskan dirinya membantah anggapan bahwa kasus dugaan penghalangan kinerja jurnalistik tersebut telah selesai hanya berdasarkan foto jabat tangan yang beredar.
Ia menyatakan proses penyelesaian masih bergantung pada pemenuhan komitmen dan kesepakatan yang menurutnya belum dituntaskan. (Putra NS)
Dukung Jurnalisme HALOSUMUT
Dalam segala situasi, HaloSumut.com berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.
Berikan Apresiasi Sekarang
