LABUSEL, Halosumut.com – Satu tahun berlalu sejak kasus perjudian Togel di Tanjung Medan mencuat pada 2024, namun aroma ketimpangan penegakan hukum terasa kembali menyengat di penghujung 2025. Warga Kecamatan Kampung Rakyat kini kembali mempertanyakan: benarkah hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, atau hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas?
Di tengah keresahan itu, nama TRK, seorang juru tulis (jurtul), kembali disebut-sebut sebagai “korban tunggal” penegakan hukum. TRK telah menjalani hukuman pidana atas keterlibatannya sebagai pelaku lapangan dalam praktik togel offline tersebut. Namun ironi mencuat ketika publik menyoroti sosok yang disebut-sebut sebagai aktor kunci dalam jaringan perjudian itu.
Figur berinisial A.C.Y.S, warga Desa Tanjung Medan yang oleh warga diyakini sebagai pengendali, pemodal, sekaligus pemain besar dalam operasi togel itu, hingga kini diduga masih bebas berkeliaran tanpa pernah tersentuh proses hukum. Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan bahwa sejak kasus tersebut pecah tahun lalu, aktivitas A.C.Y.S di kampung halaman berjalan normal seolah kasus tersebut tak pernah mengarah kepadanya.
Kondisi timpang inilah yang membuat kegelisahan masyarakat semakin memuncak.
“TRK sudah hancur masa depannya karena dipenjara. Tapi kenapa yang diduga bos besarnya masih bisa hidup tenang? Apa memang beda perlakuan bagi mereka yang punya kuasa dan modal?” ujar seorang tokoh pemuda setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Warga menilai ada sesuatu yang janggal dari penghentian proses pada level jurtul saja, sementara dugaan keterlibatan pemodal besar tak terlihat kemajuan penanganannya. Mereka mempertanyakan komitmen aparat penegak hukum dalam memberantas perjudian, terlebih ketika pemerintah pusat terus menggaungkan perang terhadap judi online.
Desakan kini menguat dari masyarakat Tanjung Medan agar aparat kembali membuka dan mendalami dugaan keterlibatan A.C.Y.S. Publik menuntut transparansi serta memastikan bahwa supremasi hukum tidak berhenti pada mereka yang paling lemah dalam rantai praktik ilegal—sementara pihak yang diduga memiliki peran besar justru melenggang tanpa hambatan.
Di akhir tahun 2025 ini, warga berharap ada titik terang baru. Harapan mereka sederhana: keadilan bagi TRK dan bukti nyata bahwa hukum benar-benar bekerja untuk semua orang—tanpa diskriminasi status maupun kekuatan finansial. (Team)
Dukung Jurnalisme HALOSUMUT
Dalam segala situasi, HaloSumut.com berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.
Berikan Apresiasi Sekarang
